Sehingga teori asal usul nama Malioboro dari nama orang Inggris, terbantahkan.
Versi lain menyebutkan nama Malioboro diambil dari frasa bahasa Sanskerta, Malyabhara yang berarti menyajikan karangan bunga.
Sejumlah sejarahwan meyakini istilah tersebut yang menginspirasi Sultan Hamengku Buwono I.
Versi ini cukup masuk akal, mengingat dulu jalan Malioboro akan dipenuhi bunga setiap kali keraton mengadakan acara besar.
Selain itu, Malioboro juga sering dimaknai sebagai perjalanan menjadi wali yang mengembara.
Apalagi di kawasan ini, terdapat 3 jalan utama yakni jalan Margo Mulyo, Margo Utomo dan Malioboro sendiri.
Konon, ketiga jalan ini menjadi bagian dari Sangkan Paraning Dumadi, konsep ajaran milik Sultan Hamengku Buwono I.
Konsep ini adalah ajaran tentang perjalanan manusia dari lahir hingga kembali ke San Pencipta.
Simpul utama dalam Sangkaning Paraning Dumadi digambarkan dalam Panggung Krapyak-Keraton--Tugu Yogyakarta.
Panggung Krapyak ke Keraton merupakan lambang sangkaning dumadi, yaitu perjalanan manusia sejak lahi hingga dewasa dan berkeluarga.
Lalu Tugu-Malioboro-Keraton menjadi lambang perjalanan manusia menuju akhir hayatnya.***