SketsaNusantara.id - Gunung Lawu terkenal sebagai pusat spiritual Jawa yang juga memiliki beberapa kisah mitos yang banyak dikunjungi bagi para penikmat sejarah.
Terletak di antara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung ini menyuguhkan berbagai panorama yang indah dan menakjubkan.
Selain itu disini juga ada petilasan sakral Eyang Bancolono, nama Bancolono diperoleh dari nama asal salah satu pengawal Raja Majapahit terakhir yaitu Prabu Brawijaya V yang sedang melakukan meditasi di Gunung Lawu.
Nama Bancolono sendiri merupakan nama asli dari daerah tersebut dan juga nama dari pengawal kerajaan yang konon dipercaya menjelma menjadi burung.
Yang mana saat mendaki di Gunung Lawu bila bertemu burung ini maka bisa menjadi petunjuk arah agar tidak tersesat.
Sebelum proses melakukan pertapaan Raden Bancolono atau Eyang Bancolono akan melakukan ritual pensucian diri dengan mandi di Sendang Bancolono.
Lokasi Pertapaan Bancolono tepat berada di bawah Jembatan Bancolono yang menjadi tapal batas antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah di Lereng Gunung Lawu.
Dilansir oleh SketsaNusantara.id yang dikutip dari Youtube Utug utug, inilah kisah pelarian Prabu Brawijaya V sebagai Senopati Terakhir Majapahit.
Setelah masa pelarian Prabu Brawijaya V saat kehancuran Kerajaan Majapahit, Prabu Brawijaya mewajibkan keluarganya untuk minum air dari sendang dan juga bersuci di masing-masing sendang.
Bersuci di sendang baik putra dan putri sesuai jenis kelamin, kemudian setelah bersuci, Prabu Brawijaya dan keluarga mendaki ke Puncak Gunung Lawu.
Eyang Bancolono mempunyai dua anak laki-laki Gombak dan Kuncung yang menurut tutur dari masyarakat anak Eyang Bancolono kerap muncul dan menjaga pertapaan Bancolono.
Pertapaan Bancolono berada di ketinggian 1300 mdpl memiliki suasana dingin karena berada di lereng Gunung Lawu juga dikelilingi dengan pohon.