Saat masyarakat memakamkan Mbah Priok, mereka memberikan sebuah tanda berupa nisan berbentuk dayung dan meletakkan periuk di sisi makam.
Terdapat cerita sejarah menyatakan, bahwa dayung yang dijadikan sebagai nisan seketika tumbuh menjadi pohon, sementara periuk yang di sisi makam tersebut diseret oleh ombak.
Kemudian setelah tiga hingga empat tahun setelah pemakaman, diketahui periuk tersebut kembali mendatangi makam Mbah Priok.
Pada akhirnya masyarakat pun meyakini bahwa kisah tersebut adalah latar belakang dari asal-usul Tanjung Priok. Saat ini, makam Mbah Priok berada di Jalan Jampea No. 6, Koja, Jakarta Utara.***