SketsaNusantara.id - Mumifikasi merupakan proses pengawetan jasad-jasad orang yang telah meninggal dan sudah dilakukan sejak zaman Mesir kuno.
Mumifikasi yang paling terkenal ceritanya adalah Mumi Firaun yang merupakan raja sekaligus orang paling berpengaruh di Mesir kuno pada masanya.
Tahukah kamu bahwa teknik mumifikasi pada peradaban Mesir kuno dilakukan dengan menggunakan bahan rempah.
Baca Juga: Inilah Nama Unik Ma Huan, Seorang Tiongkok Muslim yang Menulis Perjalanan Laksamana Cheng Ho
Menurut Jawa Pos Nasional Network, raja-raja Mesir Kuno meyakini rempah memiliki kemampuan magis untuk memberikan wewangian seperti dewa-dewi sekaligus menahan dewa kematian yang akan menggerogoti tubuh orang yang telah meninggal.
Sehingga adanya sebuah tradisi yang dilakukan oleh para Firaun di Mesir kuno untuk menggunakan rempah seperti lada, cengkeh dan lain sebagainya sebagai bahan proses pengawetan jasad.
Bukan hanya rempah seperti lada, kunyit, cengkeh, buah pala saja yang digunakan pada proses pengawetan jasad atau mumifikasi, tetapi juga kapur barus yang pada zamannya hanya bisa didapatkan di Sumatera.
Dikutip SketsaNusantara.id dari YouTube Channel Abdel Achrian yang telah tayang pada 15 Februari 2024, dalam wawancara Abdel dengan Ustadz Salim A. Fillah, disebut bahwa Sumatera menjadi daerah di Nusantara yang memiliki sumber kapur barus.
Dikatakan oleh Ustadz Salim A. Fillah, Pulau Sumatera menjadi satu-satunya pengekspor kapur barus khususnya ke Mesir yang digunakan sebagai salah satu bahan utama mumifikasi.
Diartikan bahwa Sumatera menjadi titik penting dari peradaban masa lalu terkhususnya bagi Mesir kuno.
Baca Juga: Kenapa Pulau Sumatera Disebut Swarnadwipa? Inilah Asal-usul dan Sejarah Panjangnya
Penjelasan singkat tentang kapur barus atau Camphor yang merupakan suatu bahan atau barang yang dibuat dari pohon Kaafuur Barus (Dryobalanops aromatica) yang dapat ditemukan di Sumatera, Semenanjung Malaya dan Kalimantan.