SketsaNusantara.id- Lumpia adalah salah satu makanan yang sudah menjadi salah satu bagian kuliner Kota Semarang sejak ratusan tahun yang lalu.
Lumpia dijadikan signature dish kuliner di Kota Semarang yang mempunyai ciri khas tersendiri di mana tampak dari ukurannya.
Ukuran lumpia di Semarang juga jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jenis lumpia dari daerah lain.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Jurnal Pendidikan Sejarah yang berjudul Lumpia Semarang Pada Masa Orde Baru, salah satu cikal bakal dari perkembangan lumpia di wilayah Semarang adalah Lumpia Gang Lombok.
Lumpia adalah kuliner khas Semarang berupa dadar yang digulung dan digoreng, tapi ada juga yang dikukus.
Lumpia memiliki cita rasa yang manis dan gurih dengan berbagai isian berupa rebung, ayam, dan juga udang.
Balutan kulit tipis yang berbahan dasar terigu ini memiliki penamaan lumpia yang berasal dari dialek Hokkian yaitu "Lun" yang berarti lunak dan "Pia" yang artinya "Kue".
Penyebutan nama lumpia di Tiongkok adalah Chun Juan (dibaca : Ju-en Cuen) dengan Chun yang memiliki arti musim seni dan Juan berarti menggulung.
Bagi masyarakat etnis Tionghoa yang berada di Semarang, lumpia ini wajib disajikan pada saat sembahyang tahun baru.
Pada awalnya lumpia itu ternyata tidak digoreng. Hal itulah yang membuat lumpia disebut dengan istilah kue lunak.
Seiring berjalannya waktu, rasa lumpia dimodifikasi dan semakin beragam macamnya.
Saat ini, beberapa contoh varian rasa lumpia diantaranya ada rebung, udang, telur, kepiting, dan lain sebagainya.