Di abad tersebut pesisir utara Lamongan khususnya wilayah Paciran menjadi daerah sasaran dakwah para Wali Songo, termasuk Sunan Drajat.
Berdasarkan penuturan masyarakat setempat di wilayah Paciran, Lamongan, Jumbrek menjadi makanan favorit para wali kala itu.
Selain makanan tradisional kesukaan para wali, Jumbrek tetap eksis sampai saat ini dan jadi makanan yang selalu ada dalam acara tradisi sedekah bumi.
Jumbrek memang terdengar nama yang aneh, kuliner khas Lamongan ini terbuat dari campuran tepung beras, santan, dan sirup gula siwalan.
Rasa khas makanan Jumbrek ini legit dari sirup gula siwalan dan lembut di lidah.
Bentuk uniknya juga menjadi khas Jumbrek yaitu berbentuk kerucut melilit yang dibungkus daun siwalan.
Sejarah Jumbrek memang tak lepas dan erat kaitanya dengan para wali. Selain itu, makanan ini tercipta karena di daerah Paciran, Lamongan banyak terdapat pohon siwalan.
Sehingga, sirup gula siwalan yang legit diimanfaatkan sebagai salah satu bahan dasar pembuatannya.
Tak hanya itu, daun siwalan pun juga dimanfaatkan sebagai bungkus Jumbrek, sehingga memiliki aroma dan cita rasa khas.
Bisa dibilang kalau Jumbrek merupakan makanan tradisional yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan plastik sebagai pembungkusnya.
Jangan lupa mencicipi Jumbrek, makanan tradisional yang banyak ditemukan di wisata religi Sunan Drajat dan sekitarnya yang jadi favorit para Wali Songo di masanya.***