Saat itu ia membawa tiga buah kue tamis yang ukurannya cukup besar. Sayangnya kue itu tidak cukup jika harus dibagikan kepada seluruh warga.
Alhasil, sang istri membuat kue yang sama. Namun dalam bentuk lebih kecil, seperti kue apem.
Kuliner itu diberi nama afwan atau afhum yang artinya minta maaf. Dijadikan sebagai bentuk pendekatan berbagi oleh Ki Ageng Gribik.
Selain itu jajanan ini memiliki simbol terbukanya pintu maaf. Yakni agar masyarakat mulai terbiasa meminta ampun kepada Allah SWT.
Sejak saat itu, masyarakat Jawa memaknai kuliner ini sebagi simbol permintaan maaf atas segala kesalahan.
Adapun kue ini juga menjadi media dakwah bagi masyarakat Klaten. Tidak hanya itu, keberadaan kue apem ini juga erat kaitannya dengan Wali Songo.
Wali Songo yang turut merasakan tersebarnya kuliner ini adalah saat masa kepemimpinan sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga.
Siapa yang tak mengenal dua sosok tersebut? Sosok yang begitu berjasa dalam perkembangan Agama Islam di tanah Jawa.
Melansir dari YouTube Ensiklopedia Islami, Sunan Gunung Jati yang juga terlibat dalam perkembangan kue apem ini dikenal memiliki karomah.
Salah satu karomah yang dimiliki oleh Sunan Gunung Jati adalah dapat menyembuhkan penyakit seseorang tanpa bantuan medis.
Adapun Sunan Kalijaga yang juga terlibat dalam sejarah perkembangan kue apem di tanah Jawa.