Selain latar belakang keluarganya, julukan tersebut juga dianggap sesuai dengan sifat Samin Surosentiko yang mirip Bima, kasar, tidak sopan namun jujur dan luhur.
Nama Samin sendiri dipilih bukan tanpa alasan sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari laman Pusaka Jawatimuran.
Nama Samin dipilih karena menurutnya, lebih bernafas kerakyatan.
Samin Surosentiko mulai menyebarkan ajarannya pada tahun 1890 ketika ia masih berusia 31 tahun.
Pengikutnya kian lama kian bertambah bahkan hingga ke wilayah lain seperti Bojonegoro, Rembang, Ngawi hingga Grobogan.
Salah satu ajarannya yang cukup terkenal yakni Sedulur Sikep. yang bermakna melawan tanpa senjata atau tanpa kekerasan.
Bahkan saat melawan Pemerintahan Kolonial Belanda, Samin menggunakan ajaran tersebut untuk memberontak.
Sayangnya, Samin Surosentiko memiliki akhir hidup yang penuh misteri.
Dalam perlawanannya terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, Samin dipercaya dibuang hingga akhirnya meninggal di Sumatera Barat.
Namun ada juga yang meyakini jika Samin Surosentiko hidup abadi.
Setelah kepergiannya, pengikut ajaran Samin pun mulai berkurang dan hanya menyisakan sekitar 250 di Bojonegoro.***