SketsaNusantara.id - Tempatnya jauh dari pusat kota Nganjuk, tapi mendadak jadi destinasi wisata religi saat bulan Suro tiba.
Bulan Suro selalu diidentikan dengan hal buruk, sial dan bencana. Anggapan itu lekat sehingga membuat masyarakat Jawa menjadikan bulan Suro sakral dan prihatin. Sehingga tidak selayaknya digunakan untuk membuat acara pesta maupun perayaan besar dalam bulan Suro.
Masyarakat Jawa biasanya menyambut dan mewarnai bulan Suro dengan tirakat serta mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Hal ini dilakukan agar sepanjang Suro, diberikan keselamatan dan jauh dari bencana.
Baca Juga: 4 Larangan Malam 1 Suro, Malam Topo Bisu Penuh Sakral dan Pantangan, Jangan Dilanggar Bahaya
Selain penjamasan pusaka, ziarah ke makam para tokoh ulama dan pendahulu menjadi momentum sakral di bulan Suro. Tradisi ini sekaligus membuka masa-masa prihatin dan sakral di bulan Suro.
Dilansir SketsaNusantara.id dari YouTube Jejak Richard, salah satu makam keramat yang menjadi wisata religi di bulan Suro ini letaknya ada di lereng Pegunungan Wilis. Sebuah wilayah yang ada di ketinggian Nganjuk.
Meski lokasinya terpencil, namun saat bulan Suro, makam ini penuh dengan peziarah yang datang dari banyak wilayah di Indonesia.
Ada di ketinggian 1.300 MDPL mendekati Puncak Liman, titik tertinggi di Pegunungan Wilis, bersemayam tokoh sakti dari Surakarta.
Puncak Liman termasuk dalam desa tertinggi di Kabupaten Nganjuk, masuk dalam administrasi Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Makam keramat yang sering kali ramai peziarah saat bulan Suro ini adalah milik Eyang Ageng Ngaliman. Ia adalah seorang keturunan arab yang mendirikan padepokan dan melakukan syiar Islam di wilayah Desa Ngliman.
Salah satu bukti peninggalan syiar Eyang Ageng Ngaliman ini adalah berdirinya Masjid Kyai Ageng Ngliman yang masih berdiri kokoh dan dimanfaaatkan hingga kini oleh warga sekitar. Ia juga menjadi tujuan bagi para wisatawan saat berziarah ke makam Eyang Ageng Ngaliman.
Untuk menyambut dan memperingati bulan Suro, masyarakat di wilayah Desa Ngliman ini punya tradisi dan ritual khusus yang biasa dilakukan bersama. Sebagai bentuk mensucikan diri, melakukan ritual berendam di Air Terjun Sedudo.
Karena lokasinya yang tak jauh dari makam Eyang Ageng Ngaliman, maka ritual ini dilakukan sebelum ziarah ke makam.