Selain itu, Raden Wijaya, pendiri Majapahit, adalah keturunan dari kerajaan Sunda, sehingga ada rasa segan untuk menyerang Sunda.
Kerajaan Sunda dikenal dengan pertahanan yang sangat kuat dan pasukan perang yang tangguh, sehingga musuh berpikir dua kali untuk menyerang.
Gajah Mada menyadari risiko besar jika menyerang Sunda dalam perang terbuka, dan memilih untuk tidak melakukannya.
Meskipun hubungan politik antara Sunda dan Majapahit baik-baik saja, penguasa Sunda tetap tidak mau tunduk di bawah Majapahit.
Kesempatan untuk menaklukkan Sunda muncul ketika Raja Hayam Wuruk ingin menikahi Putri Raja Sunda, Dyah Pitaloka.
Gajah Mada memanfaatkan kesempatan ini dan menafsirkan kedatangan Raja Sunda sebagai tanda tunduk kepada Majapahit.
Namun, rombongan Sunda menolak dan pertempuran pun pecah di Bubat.
Meskipun pasukan Majapahit berhasil mengalahkan rombongan Sunda, Kerajaan Sunda tetap berdiri tegak dan tidak pernah ditaklukkan oleh Majapahit.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa keteguhan budaya dan kekuatan pertahanan yang kuat mampu membuat Kerajaan Pajajaran tetap merdeka hingga runtuhnya Kerajaan Majapahit.***