Brahmana tidak terima karena Islam berkembang begitu pesat di tanah Jawa kala itu.
Berhari-hari Brahmana Sakyakirti belajar kitab-kitab terbaik dari India.
Bahkan Brahmana pura-pura menjadi orang Islam supaya bisa mempelajari Bahasa Arab dan menggali infro seputar Sunan Bonang.
Dengan sombongnya Brahmana Sakyakirti sesumbar akan menantang Sunan Bonang berdebat dan adu kesaktian.
Brahmana mengaku jika kalah bakal sujud dan menyerahkan dirinya untuk Sunan Bonang.
Belum selesai sesumbar, gulungan ombak dan angin datang menghantam kapal Brahmana bersama murid-muridnya hingga terbalik.
Kitab-kitab tebal dan terbaik dari India yang ia bawa seketika tenggelam di dasar laut.
Brahmana dan muridnya terpaksa menyelam untuk menyelamatkan diri hingga mereka terdampar di pantai tanpa perbekalan apapun.
Hingga pada akhirnya datanglah laki-laki berjubah putih berjalan di bibir pantai.
Merasa butuh pertolongan Brahmana Sakyakirti menghampiri laki-laki tersebut dan menjelaskan asal usul dan nama.
Bak sudah mengetahui akal bulus pendeta tersebut, Sunan Bonang mencabut tongkatnya hingga keluar air segar siap minum.
Melihat air yang muncrat kemana-mana murid Brahmana Sakyakirti langsung berlari menyambar air tersebut karena kehausan.