Dalam Babad Tanah Jawi, Amangkurat I dikisahkan membunuh Dalang Panjang Mas dan dimakamkan di Gunung Kelir.
Namun versi lain menyebutkan Ki Dalang Panjang tidak dibunuh, melain kan meninggal secara wajar sebagaimana tertulis dalam catatan pemerintah Belanda, Daghregister 1677.
Setelah menjadi janda, barulah Ratu Malang diboyong ke istana.
Kecintaan Amangkurat I pada Ratu Malang membuatnya kerap lupa tugasnya sebagai raja bahkan hingga membuat para selir lain cemburu.
Bahkan Amangkurat I mengangkat Ratu Malang sebagai permaisuri dengan gelar Ratu Wetan.
Dikutip dari penelitian Hj De Graaf, Runtuhnya Istana Mataram, Amangkurat I bahkan sempat menelantarkan permaisurinya yang lain.
Dan itulah salah satu sebab Retnu Gumilang dijuliki sebagai Ratu Malang, yakni ratu yang melintang di jalan.
Saat Ratu Malang meninggal, Amangkurat I bahkan langsung menguburkan jasad sang istri seperti dikutip dari laman Jogjacagar.
Barulah setelah Amangkurat I bermimpi Ratu Malang bersanding dengan Ki Dalang Panjang Mas, Raja Mataram keempat tersebut menguburkan jenazah sang istri.
Ratu Malang akhirnya dibuatkan kompleks makam di Gunung Kelir, tempat jasad suaminya dikuburkan.
Kompleks makam yang beada di Desa Kedaton, Kecamatan Plered, Bantul ini pun diberi nama Antaka Pura yang berarti Istana Kematian.***