jelajah

Pesona Desa Wisata Karang Tengah Bantul: Belajar Batik, Berburu Kuliner, hingga Menyapa Ribuan Pohon Mete

Kamis, 12 Februari 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi desa wisata di Yogyakarta. (Pexels/HONG SON)

SketsaNusantara.id - Yogyakarta terus mengembangkan desa wisata sebagai destinasi unggulan berbasis budaya dan alam.

Upaya itu dilakukan dengan menggali potensi lokal. Seni, tradisi, dan kerajinan menjadi daya tarik utama. Salah satu desa wisata yang menonjol berada di wilayah Imogiri, Bantul.

Desa Wisata Karang Tengah dikenal sebagai kampung pengrajin batik. Sejak lama, desa ini menjadi rujukan bagi wisatawan yang ingin melihat langsung proses membatik. Aktivitas tersebut menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai daerah.

Baca Juga: Pesona Desa Wisata Nglinggo Kulon Progo, Perpaduan Alam Asri, Budaya Lokal, dan Wisata Edukatif yang Bikin Betah

Selain belajar membatik, wisatawan dapat menyusuri aktivitas warga yang masih menjaga tradisi.

Dilansir dari Jogjaprov.go.id, proses produksi dilakukan secara manual. Setiap tahap dikerjakan dengan teliti dan penuh ketekunan. Hasilnya menjadi produk batik khas yang mudah dikenali.

Di desa ini, kerajinan tangan berkembang cukup beragam. Wisatawan dapat menemukan kerangka keris dan bubut kayu. Berbagai produk tersebut menjadi oleh-oleh khas. Kerajinan itu dibuat oleh perajin lokal yang mempertahankan teknik tradisional.

Baca Juga: Desa Wisata Panjangrejo Bantul, Jejak Awal Gerabah Yogyakarta dari Pundong dengan Inovasi Cover Artistik dan Spot Selfie Ikonik

Pilihan kuliner juga tersedia melimpah. Pengunjung dapat mencicipi rempeyek, jamu instan, dan bakpia. Makanan khas ini diproduksi langsung oleh warga. Cita rasanya merepresentasikan kekayaan kuliner Jogja.

Salah satu produk yang paling menonjol adalah kacang mete. Desa Wisata Karang Tengah memiliki hamparan kebun jambu mete yang luas. Sekitar 60 ribu pohon tumbuh di lahan seluas 60 hektar. Kebun ini menjadi bagian penting perekonomian warga.

Selain menghasilkan biji mete, pohon-pohon tersebut juga dimanfaatkan sebagai media budidaya ulat sutera. Ulat sutera dikembangkan pada sekitar 10.000 pohon. Proses ini dilakukan dengan sistem perawatan khusus.

Hasil budidaya tersebut kemudian diolah menjadi benang sutera. Benang itu digunakan sebagai bahan baku kain. Produk akhirnya mendukung aktivitas membatik yang telah mengakar di desa ini.

Desa Wisata Karang Tengah juga membudidayakan berbagai tanaman pewarna alami. Tanaman kesumba, mahoni, secang, dan indighovera tumbuh di lahan pertanian warga. Seluruh tanaman tersebut menjadi bahan pokok pembuatan batik tulis.

Indighovera dimanfaatkan sebagai pewarna biru alami. Secang menghasilkan warna kemerahan. Kesumba dan mahoni melengkapi variasi warna batik. Proses pewarnaan ini menjaga keaslian teknik tradisional.

Halaman:

Tags

Terkini