jelajah

Tradisi Perak di Jantung Yogyakarta, Inilah Pesona Kampung Wisata Purbayan Kotagede dengan Sejarah Mataram Islam

Kamis, 8 Januari 2026 | 06:30 WIB
Ilustrasi kampung wisata di Yogyakarta. (Pexels/Gustomy)

SketsaNusantara.id - Kampung Wisata Purbayan berada di Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Kawasan ini dikenal sebagai wilayah yang menyimpan jejak panjang sejarah Mataram Islam.

Nama Purbayan berasal dari Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati. Panembahan Senopati merupakan Raja Mataram Islam pertama pada akhir abad ke-16.

Sejarah kawasan ini tidak terlepas dari kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Masa keemasan kerajaan berlangsung pada era Sultan Agung pada abad ke-17.

Baca Juga: Ada Wisata Air dan Seni Tradisi, Kampung Wisata Kricak di Utara Kota Yogyakarta Jadi Destinasi Alternatif

Dilansir SketsaNusantara.id dari Jogjakota.go.id, Kampung Wisata Purbayan mengusung branding Kampung Pusaka dan Penjaga Tradisi. Konsep tersebut mencerminkan posisi Purbayan sebagai kawasan bersejarah dan budaya hidup.

Sebagai kampung pusaka, Purbayan masih menyimpan banyak peninggalan Mataram Islam. Berbagai situs sejarah masih dapat ditemukan di lingkungan permukiman warga.

Selain situs sejarah, rumah tradisional khas Kotagede juga masih bertahan. Bangunan-bangunan tersebut menunjukkan karakter arsitektur Jawa klasik yang kuat.

Baca Juga: Dekat Malioboro, Kampung Suryatmajan Yogyakarta Disulap Jadi Kampung Wisata Lewat Mural, UMKM, dan Olahan Jamur

Keberadaan rumah tradisional menjadi daya tarik visual kawasan ini. Estetika ruang kampung mencerminkan tata kota lama Kotagede.

Sebagai kampung penjaga tradisi, Purbayan dikenal dengan pengrajin perak. Aktivitas produksi perak masih berlangsung hingga saat ini.

Tradisi kerajinan perak menjadi identitas penting Kotagede sejak lama. Purbayan termasuk kawasan yang konsisten menjaga warisan tersebut.

Pengrajin perak di kampung ini tidak hanya mempertahankan teknik lama. Mereka juga berperan dalam menjaga nilai budaya lokal.

Selain kerajinan perak, Purbayan memiliki ragam kuliner khas. Beberapa di antaranya adalah roti kembang waru, legamara, ukel, dan banjar.

Kuliner tradisional tersebut masih diproduksi oleh warga setempat. Keberadaannya menjadi bagian dari pengalaman wisata berbasis budaya.

Halaman:

Tags

Terkini