SketsaNusantara.id - Kawasan Baciro di Yogyakarta menyimpan jejak sejarah panjang sejak abad ke-19.
Nama Baciro pertama kali digunakan secara resmi pada tahun 1868. Penggunaan nama tersebut terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI.
Sri Sultan Hamengku Buwono VI memerintah Yogyakarta pada periode 1821 hingga 1877. Pada masa itu, pemerintah Hindia-Belanda membangun sebuah kompleks hunian baru.
Dilansir dari Jogjakota.id, kompleks tersebut dikenal dengan nama Villawijk Batjiro. Saat ini, lokasi tersebut dikenal sebagai Asrama Puteri Kalimantan Timur. Pembangunan Villawijk Batjiro berkaitan dengan kondisi geologis wilayah Yogyakarta.
Pada masa tersebut, gempa besar kerap terjadi di kawasan Yogyakarta. Situasi itu mendorong pemerintah Hindia-Belanda mengambil langkah mitigasi.
Sebelumnya, para pejabat dan pimpinan Belanda tinggal di kawasan Kaliurang. Kaliurang berada di dataran tinggi lereng Gunung Merapi. Wilayah tersebut menjadi lokasi rumah peristirahatan elite kolonial.
Namun, aktivitas kegempaan yang meningkat memicu pertimbangan ulang. Pemerintah kolonial menilai kawasan tersebut tidak lagi aman. Akhirnya, hunian para pembesar Belanda direlokasi ke wilayah selatan.
Relokasi dilakukan sejauh kurang lebih 30 kilometer dari Kaliurang. Wilayah tujuan relokasi berada di dataran yang dianggap lebih stabil.
Kawasan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Baciro. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan keamanan geologis.
Relokasi ini mencerminkan upaya adaptasi terhadap bencana alam. Villawijk Batjiro dirancang sebagai kawasan hunian terencana.
Kompleks tersebut menjadi tempat tinggal pejabat dan pimpinan perkebunan. Keberadaan kawasan ini menandai perubahan pola permukiman kolonial.
Nama Baciro sendiri memiliki makna yang berasal dari bahasa Sanskerta. Baciro berasal dari kata Bacira dalam bahasa Sanskerta. Kata Bacira memiliki arti tanah lapang.