SketsaNusantara.id - Sejarah Jawa kerap menyimpan cerita yang lebih rumit dari yang tampak di permukaan.
Salah satu contohnya adalah runtuhnya Kerajaan Singhasari yang selama ini sering dikaitkan dengan serangan pasukan Mongol di bawah kekuasaan Khubilai Khan.
Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa kejatuhan Singhasari justru berasal dari dalam negeri sendiri, oleh tangan seorang bangsawan yang memberontak, yakni Jayakatwang.
Dilansir dari buku Warisan Bahari karya Bambang Budi Utomo, terbitan Yayasan Obor Indonesia tahun 2016, Babad Lasem, naskah kuno yang menyalin isi Pustaka Badrasanti karya bangsawan Lasem bernama Kamzah, memberikan gambaran penting tentang periode setelah keruntuhan Singhasari.
Dari situ, kisah tentang bangkitnya kerajaan baru di wilayah timur Jawa mulai muncul, kerajaan yang kelak dikenal sebagai Majapahit.
Jayakatwang dan Akhir Singhasari
Menurut sumber sejarah, Singhasari tumbang bukan karena serangan Khubilai Khan, melainkan karena pemberontakan Jayakatwang, raja bawahan yang menyerang pusat kekuasaan Singhasari.
Baca Juga: Perjalanan Batik, Sejarah dari Simbol Kekuasaan Majapahit hingga Warisan Dunia UNESCO
Serangan ini mengguncang tatanan politik Jawa Timur dan mengakhiri masa pemerintahan raja terakhir Singhasari.
Setelah kehancuran Singhasari, wilayah sekitar Sungai Brantas menjadi pusat pemerintahan baru. Dari sinilah Majapahit lahir dan tumbuh menjadi kerajaan besar di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada sebagai tokoh sentralnya.
Meski dikenal sebagai kerajaan agraris, Majapahit juga memiliki kekuatan maritim yang kuat berkat panglima lautnya, Mpu Nala.