2. Representasi Siklus Hidup Bayi
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Pariwisata Indonesia, Sasando memiliki makna filosofis siklus hidup bayi dari dawai yang berjumlah 7 buah.
Masyarakat Rote mempercayai bahwa bayi yang berusia 7 bulan sudah sempurna secara fisik dan setelah 9 bulan telah siap dilahirkan ke dunia.
Filosofi ini tercermin dari jumlah dawai Sasando pada awal-awal kemunculannya yang berjumlah 7 atau 9 buah.
3. Dimainkan dalam Upacara Adat
Sasando kerap ditampilkan dalam berbagai upacara adat di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur untuk mengiringi tarian tradisional dan lagu-lagu daerah.
Di era modern seperti sekarang, alat musik ini digunakan untuk menambah nuansa etnik yang khas.
4. 3 Jenis Sasando Populer
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Kementerian Pariwisata, terdapat 3 jenis alat musik Sasando populer, yakni Sasando Gong, Sasando Biola, dan Sasando Elektrik.
Sasando Gong memiliki 12 dawai dari nilon dan kerap digunakan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional masyarakat Rote.
Sasando Biola memiliki ukuran lebih besar dengan 48 dawai dan merupakan hasil modifikasi dari pakar sasando bernama Edu Pah. Jenis sasando ini berkembang di Kupang pada abad ke-18.
Sasando Elektrik merupakan jenis sasando modern yang diciptakan oleh Arnoldus Edon pada 1960-an. Jenis ini diciptakan agar sasando dapat didengarkan secara lebih jauh dan umumnya memiliki 30 dawai.
5. Dipopulerkan melalui Asia's Got Talent
Popularitas sasando di dunia tidak terlepas dari sosok bernama Djitron Pah yang membawakan alat musik ini di ajang pencarian bakat Asia’s Got Talent pada 2015.