SketsaNusantara.id – Sebagai sebuah negara, Indonesia dikenal dengan kemajemukannya. Beragam etnis, budaya, bahasa, dan agama hidup berdampingan dengan damai di negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari semangat persatuan dan kesatuan yang dimiliki setiap warga negara meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Salah satu perekat dari keberagaman tersebut ada pada semboyan negara yang berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika.”
Menjadi salah satu dari 4 Pilar Kebangsaan bersama Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 serta Negara Kesatuan Republik Indonesia, bagaimana sejarah semboyan negara tersebut tercipta? Dan apa makna sesungguhnya?
Dikutip dari Kitab Sutasoma Karya Mpu Tantular
Pertama kali, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” ditemukan dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14.
Kitab yang berjudul resmi Purusadha tersebut digubah oleh Mpu Tantular menjadi kakawin (syair) pada masa puncak kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1389).
Bait yang memuat kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” selengkapnya berbunyi:
Hyâng Buddha tanpâhi Çiva rajâdeva; Rwâneka dhâtu vinuvus vara Buddha Visvâ; Bhimukti rakva ring apan kenâ parvvanosn; Mangka ng Jinatvâ kalavan Çivatatva tunggal; Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terjemahan bebasnya:
Hyang Buddha tiada berbeda dengan Syiwa Mahadewa; Keduanya itu merupakan sesuatu yang satu; Tiada mungkin memisahkan satu dengan lainnya; Karena hyang agama Buddha dan hyang agama Syiwa sesungguhnya tunggal; Keduanya memang hanya satu, tiada dharma (hukum) yang mendua.
Semula Menunjukkan Semangat Toleransi Keagamaan