SketsaNusantara.id - Bagi sebagian orang, Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan hanyalah halaman belakang Keraton Yogyakarta.
Namun bagi yang memahami simbol-simbolnya, Alun-Alun Selatan adalah spot terbuka yang memuat pesan tentang cinta, kedewasaan, dan perjalanan hidup.
Setiap pohon, pagar, dan hiasan adalah bahasa visual yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mengenal filosofi Jawa.
Warga Yogyakarta meyakini, simbol-simbol itu bukan dibuat tanpa alasan.
Raja-raja masa lalu menempatkannya dengan makna mendalam, mengajarkan bahwa menjadi dewasa bukan hanya soal usia, tapi juga kesiapan hati dan pikiran.
Alun-Alun Selatan, yang juga disebut Alun-Alun Pengkeran atau Alun-Alun Belakang, berada di dalam tembok baluwarti kompleks Kraton Yogyakarta.
Berbeda dengan Alun-Alun Utara yang ramai dan penuh pohon di pinggirnya, kawasan ini tampak sederhana dan lebih lapang.
Di bagian tengah, berdiri 2 batang pohon beringin yang dipagari batu bata. Pagar itu dihiasi bulatan dan busur, yang melambangkan sifat pemuda dan pemudi.
Beringin kurung ini disebut supit urang, simbol yang menggambarkan bagian tubuh rahasia, sehingga diberi pagar dan ditutupi.
Dikutip SketsaNusantara.id dari buku Ensiklopedi Kraton Yogyakarta terbitan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2014, dekorasi berbentuk bulatan di pagar melambangkan roda kehidupan yang masih labil. Artinya, sifat anak muda mudah berubah, bergeser, dan belum stabil sepenuhnya.
Di kanan dan kiri Alun-Alun Selatan hanya ada dua pohon beringin bernama wok. Nama ini berasal dari kata brewok, yang berarti rambut di sekitar mulut dan dagu—penanda bahwa seseorang telah menginjak dewasa.