SketsaNusantara.id - Pidapata merupakan salah satu tradisi yang menjadi momen penting bagi umat Buddha menjelang perayaan Waisak di Indonesia.
Tradisi kerap jadi sorotan publik, saat rombongan biksu melakukan perjalanan menuju ke Candi Borobudur menjelang perayaan Waisak.
Video perjalanan para biksu saat melaksanakan Pindapata pun beredar luas dan jadi viral di media sosial yang ikut memantik rasa keingintahuan publik.
Lantas, apa itu Pindapata? Bagaimana asal usul tradisi ini dan apa maknanya dalam perayaan Waisak?
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @waisak.nasional, Pindapata merupakan tradisi para biksu (bhikkhu) berjalan kaki dengan membawa mangkuk dana, menerima sumbangan makanan dari umat Buddha dan masyarakat umum.
Kegiatan ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Waisak yang memperingati kelahiran, pencerahan, dan parinirvana atau wafatnya Sang Buddha Gautama.
Mengutip dari situs resmi Kemenag Bali, Pindapata merupakan kebiasaan luhur sejak zaman Buddha dengan berjalan kaki melewati pemukiman warga untuk menerima persembahan dari umat.
Pindapata sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu merupakan bagian integral dari kehidupan Sang Buddha dan para muridnya. Para bhikkhu diajarkan berjalan tanpa alas kaki dari vihara ke pemukiman umat Buddha untuk menerima persembahan makanan.
Dalam bahasa Pali, Pindapata berasal dari kata pinda yang berarti makanan dan pata yang artinya mangkuk. Secara harfiah, Pindapata berarti "mangkuk makanan" yang memiliki makna spiritual sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan pada para bhikku.
Tradisi pindapata dilakukan dengan tujuan untuk menjaga hubungan harmonis antara biksu dan umat Buddha, sekaligus ajakan untuk melakukan kegiatan beramal dalam meningkatkan kebaikan yang dipercaya membawa keberkahan.
Menjelang Waisak yang diselenggarakan hari Senin, 12 Mei 2025, tradisi pindapata dilakukan para biksu dalam perjalanan menuju Candi Borobudur dan Mendut.
Pada perayaan Waisak tahun ini, bukan hanya para bhikku dari Indonesia yang melakukan pindapata, tetapi juga biksu thudong dari Thailand, Malaysia, Singapura ikut berjalan ribuan kilometer menuju Candi Borobudur.