Tiada waktu untuk bermalas-malasan bagi Widodo dan Nurul, sebab kebun tidak subur dengan sendirinya. Mereka belajar untuk merawat, membuat pupuk mandiri, hingga menanamkan budaya minim sampah.
Perkembangan kebun ini pun bertahap secara perlahan. Dari hanya menanam sayur yang dibutuhkan saja, kemudian bertambah dengan memelihara ayam dan beraneka ragam tanaman lain.
Semakin kuat saja komitmen pasangan tersebut, terutama saat mereka menegaskan untuk tidak memberi pakan ayam mereka dengan produk pabrik.
Berawal dari menggunakan limbah organik untuk memberi makan ayam hingga terbesit ide untuk membudidayakan maggot atau larva lalat. Ide ini pun turut melahirkan budi daya lele sekaligus, mumpung pakannya sudah ada.
Terciptalah sebuah ekosistem mini di dalam kebun tersebut. Manusia memberi sisa makanan ke ayam, kemudian ayam bertelur dan kembali memberi manusia makan.
Kotoran ayam dijadikan pupuk untuk tanaman, tanaman jadi bahan makanan untuk manusia dan ayam. Lalu, limbah organik juga digunakan sebagai budi daya maggot, pakan untuk ayam dan lele.
Siklus rantai makanan yang tak terputus-putus itu membuat Nurul merasa bahwa semua makhluk setara. Tidak ada yang lebih berkuasa meskipun manusia berperan sebagai pengelola kebun.
Lama-lama, perkebunan dan pertanian mereka menarik perhatian banyak orang. Kini, Yoso Farm tidak hanya dikelola untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga jadi sarana edukasi bagi mereka yang tertarik berkunjung.
Yoso Farm Homestead cukup rutin menyediakan tur kebun, survei, workshop, hingga outing class demi mempromosikan hidup mandiri dan memelihara alam. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!