"Lagu ini baru ditemukan liriknya saja dan saya membuat melodi yang sesuai dengan zaman waktu itu, yaitu era Hindia Belanda," ujarnya.
Penampilan Antea menuai decak kagum hingga sosoknya dikenal luas publik. Ia memiliki bakat bermusik sejak kecil dan mahir memainkan berbagai alat musik mulai dari gitar, piano hingga biola.
Tak heran jika, ia meraih berbagai prestasi membanggakan di bidang musik. Antea tercatat pernah menjadi Juara International Leading Soprano dan Solois paduan suara di The Resonanz CHildren Choir (TRCC) yang diakui di panggung internasional.
Antea kerap membawakan lagu-lagu karya WR Soepratman yang kemudian dikemas dalam album pertamanya. Ia juga diketahui memiliki kanal YouTube dengan menampilkan jenis suara soprano yang menjadi ciri khasnya.
Belum lama ini, Antea membawakan lagu "Indonesia Raya" dengan lirik aslinya. Lagu kebangsaan tersebut pertama kali diperkenalkan oleh WR Soepratman di Kongres Muda Kedua pada 28 Oktober 1928.
Pada masa itu, lirik asli lagu Indonesia Raya menggunakan kata "mulia" hingga akhirnya diganti "merdeka" setelah Presiden Soekarno resmi memproklamasikan kemerderkaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Penampilan Antea menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi lantunan biola dan suara sopran seketika membuat audiens takjub yang menjadi gambaran tentang bagaimana lagu kebangsaan aslinya dinyanyikan hampir satu abad yang lalu.
Melalui kemampuan bermusiknya, Antea ikut memperkenalkan kembali sejumlah karya W.R. Soepratman yang belum banyak dikenal masyarakat.
Antea juga pernah membawakan Indonesia Raya tiga stanza dalam sejumlah penampilannya, termasuk dalam konser pada tahun 2023 yang memperkenalkan karya-karya WR Soepratman.
Indonesia Raya yang dikenal masyarakat saat ini umumnya hanya dinyanyikan dalam satu bait.
Padahal versi aslinya memiliki tiga stanza dengan lirik yang lebih panjang dan membawa pesan mengenai tanah air, persatuan, kemakmuran hingga ikrar untuk menjaga Indonesia.
Baca Juga: Jarang Diketahui! Ternyata Ini Makna Mendalam Lagu Indonesia Raya 3 Stanza
Pada stanza pertama, W.R. Soepratman menggambarkan Indonesia sebagai tanah air dan tanah tumpah darah serta mengajak bangsa Indonesia untuk bersatu.