Perdebatan itu seketika mencuri perhatian publik sampai jadi viral di media sosial. Banyak pengguna medsos yang ikut membahas argumentasi keduanya.
Sebagian warganet memberikan apresiasi kepada Zen RS karena dinilai menggunakan rujukan sejarah primer dalam menjelaskan konteks kehidupan Tan Malaka.
Di sisi lain, ada pula yang menilai diskusi tersebut menjadi ruang belajar yang menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah fakta sejarah dapat diperdebatkan berdasarkan sumber yang berbeda.
Setelah diskusi berlangsung cukup panjang, Ferry Irwandi akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Melalui akun Threads miliknya, ayah 2 anak itu mengakui telah mengakui adanya kekeliruan dalam melakukan penyederhanaan ketika menyebut "Pemerintah Belanda", sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
"Terima kasih Kang @esaipendek sudah meluruskan. Dalam diskusi itu saya membuat kekeliruan karena melakukan simplifikasi pada penyebutan 'Pemerintah' Belanda," tulis Ferry.
Dalam unggahannya, Ferry meralat perkatannya dan menyebut Tan Malaka yang ternyata tidak digaji pemerintah Belanda. Ia menjelaskan bahwa kesimpulan awalnya muncul setelah membaca besarnya keterlibatan pemerintah kolonial dalam operasional Senembah Maatschappij.
Namun, Ferry mengakui bahwa kesimpulan tersebut tidak memiliki dasar yang cukup kuat sehingga berpotensi menyesatkan pembaca.
"Kekeliruan muncul karena menganggap perusahaan Belanda yang berdiri di masa kolonial dengan suntikan modal, aset, uang dan perangkat dari pemerintah kolonial pasti terafiliasi dengan pemerintahnya saat itu," sambungnya.
"Itu bisa berakibat misleading, untuk itu saya ralat Tan Malaka tidak digaji oleh pemerintah Belanda, tapi perusahaan Belanda. Saya minta maaf atas kesalahan tersebut," tulisnya melalui akun Threads @irwandiferry.
Di tengah ramainya apresiasi terhadap jalannya diskusi tersebut, publik justru terkejut dan dibuat penasaran ketika akun Threads @esaipendek mendadak tidak lagi dapat ditemukan. Belum diketahui secara pasti penyebab akun tersebut menghilang.
Meski demikian, banyak warganet menilai perdebatan antara Ferry Irwandi dan Zen RS justru memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya memeriksa sumber sejarah secara kritis serta terbuka menerima koreksi ketika ditemukan kekeliruan.
"Seru juga buka Threads langsung belajar banyak dari diskusinya Kang Zen RS dan Ferry Irwandi tentang Tan Malaka. Terima kasih," tulis salah satu warganet.
Menanggapi berbagai komentar tersebut, Ferry menegaskan dirinya tidak keberatan dikoreksi apabila memang terbukti keliru.
"Kalaupun dia benar dan saya sadar salah maka saya akan koreksi. Sebaliknya kalau tidak ada yang salah dari argumen saya, saya tetap mempertahankan argumen itu sampai terbukti. Karena yang penting adalah substansinya," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini