Syifa juga menyoroti kebiasaan Jennifer Coppen yang menerapkan pola makan seimbang untuk Kamari dengan memperhatikan asupan gula cukup terukur untuk anak seusia Kamari.
"Bukan mitos, Kamari benar-benar dijaga ketat tanpa gula tambahan sebelum usia dua tahun. Bahkan pas ulang tahun pertama, Jenn rela bikin kue sendiri tanpa gula atau pemanis buatan demi Mayi," tulis Syifa.
"Hasilnya? Penguasaan emosional, kosakata, dan kepekaan Kamari matang banget di usianya sekarang. Otaknya berkembang optimal karena tidak terdistraksi oleh kecanduan dopamin dari rasa manis berlebih," tuturnya.
Selain membatasi asupan gula, Syifa juga mengapresiasi kebiasaan Jennifer Coppen yang membiasakan Kamari mengonsumsi real food atau makanan utuh sejak dini, bukan makanan instan yang memiliki kandungan tinggi natrium dan pengawet.
Menurutnya, pola makan yang minim makanan ultra-proses dan makanan instan dapat membantu menjaga kesehatan mikrobioma usus anak.
Dalam dunia kesehatan dikenal istilah gut-brain axis atau hubungan antara usus dan otak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan saluran pencernaan memiliki kaitan erat dengan produksi neurotransmiter yang memengaruhi suasana hati, kemampuan belajar, hingga regulasi emosi seseorang.
"Secara biologis, real food menjaga kesehatan mikrobioma usus (pencernaan). Ada istilah "Gut-Brain Axis", di mana kesehatan usus berpengaruh langsung ke saraf otak," ujar Syifa.
"Usus yang sehat menghasilkan neurotransmiter penenang seperti serotonin yang membuat anak lebih tenang dan lebih mudah menerima stimulasi," jelasnya.
Meski demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa perilaku anak tidak hanya dipengaruhi oleh makanan semata.
Pada anak seusia Kamari, tingkah laku tantrum atau mudah rewel pada balita sebenarnya adalah fase perkembangan yang normal.
Baca Juga: Cegah Stunting Nasional, BGN Instruksikan SPPG Maksimalkan Layanan MBG bagi Ibu Hamil dan Balita
Faktor pola asuh, lingkungan keluarga, kualitas tidur, stimulasi yang tepat, hingga karakter bawaan anak juga memiliki peran penting dalam membentuk kecerdasan emosional dan kemampuan mengelola emosi.
Unggahan tersebut pun menuai banyak respons dari para orang tua. Tak sedikit yang mengaku relate dan merasakan hal serupa ketika anak mengonsumsi makanan tinggi gula yang berpengaruh pada perilaku dan emosional anak.