"Tindakan Saprie dalam unggahannya seperti nggak punya akal, nggak punya empati, apalagi anak-anak dijadikan bercandaan tak pantas. Kasus perselingkuhannya dengan Jule juga seolah dilupakan karena nggak ada cancel culture," ujarnya dalam video yang diunggah di akun Instagram @sadampermana.w.
Sadam juga menyoroti fenomena publik figur bermasalah yang masih mendapat panggung dan kerja sama brand, meskipun tengah tersandung kontroversi besar.
Ia pun mendukung adanya cancel culture untuk publik figur problematik yang bisa memberikan contoh buruk bagi masyarakat.
"Aku sudah muak dengan hal-hal problematik dan masih diberikan panggung. Aku salah satu mendukung cancel culture dan kita seharusnya udah nggak lagi memberikan panggung untuk publik figur atau artis yang problematik," kata Sadam.
"Tindakan buruk yang nggak seharusnya ditunjukkan ke publik seperti Jule dan Saprie, apalagi perbuatan mereka ini merugikan bahkan merusak keluarga orang lain," pungkasnya.
Di sisi lain, publik ramai mengingatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar konflik orang dewasa. Ada dampak jangka panjang yang dirasakan anak-anak akibat kasus perselingkuhan tersebut.
Banyak warganet menilai candaan tersebut dapat menjadi jejak digital yang berbahaya bagi masa depan anak-anak.
"Itu anak dia sendiri, tapi dijadikan jokes sama Saprie. Sadar nggak nanti postingannya bisa jadi bahan ejekan orang lain, anak-anak yang kena dampak psikologis," komentar netizen.
"Jule & saprie emang bener-bener nggak punya hati, padahal itu anak dia sendiri dan nggak mikir kalo postingan jokes gak pantas gitu bisa ngerugiin anaknya. Emang pantes diboikot, cancel culture ini orang. Kasian anak Daehoon yang kena dampak karena ulah ibunya sendiri yang nggak punya empati," tulis netizen lainnya.
Dalam kajian psikologi, kondisi ini dikenal sebagai attachment wound, yakni luka emosional yang terbentuk akibat rusaknya rasa aman dalam keluarga.
Luka ini bisa dialami anak-anak broken home yang tidak berhenti saat perceraian terjadi, bahkan bisa terbawa hingga mereka dewasa.
Anak-anak yang tumbuh dalam situasi penuh konflik dan stigma berisiko mengalami berbagai gangguan, mulai dari rasa tidak aman (insecure), kesulitan membangun kepercayaan, hingga masalah dalam hubungan sosial di masa depan.