"Komedi itu seperti ventilasi dari kepengapan kehidupan. Orang bisa tertawa, padahal dia lagi nganggur, gak ada pekerjaan. Orang bisa teriak-teriak nonton bola, padahal anaknya belum bayar SPP. Itu namanya katarsis," tuturnya.
Istilah katarsis yang disebut Mi'ing memiliki makna psikologis dan kultural. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), katarsis adalah "pelepasan atau pembebasan perasaan dan emosi yang terpendam."
Dalam konteks yang dijelaskan Mi’ing, menonton komedi seperti Mens Rea menjadi sarana bagi masyarakat untuk meluapkan kegelisahan, kemarahan, dan frustrasi mereka tanpa harus meledak dalam bentuk konflik nyata.
Dengan kata lain, tawa di panggung komedi berfungsi sebagai mekanisme penyembuhan kolektif.
Masyarakat yang tertekan oleh kondisi hidup bisa merasa lebih ringan setelah menertawakan realitas pahit yang dibungkus dalam humor. Di sinilah Mi'ing melihat nilai pentingnya keberadaan komedi satir seperti yang dibawakan Pandji.
Terkait pelaporan terhadap Pandji, Mi’ing mengaku menyayangkan langkah tersebut. Meski mengakui bahwa setiap warga negara berhak melapor jika merasa tersinggung, ia menilai materi Mens Rea bukanlah sesuatu yang mengada-ada.
"Apa yang disampaikan Pandji itu bukan karangan. Itu materi sekunder, sudah ada di publik, sudah dirasakan masyarakat. Dia belanja masalah di masyarakat lalu mengolahnya jadi komedi," jelas Mi'ing.
Ia juga menanggapi sindiran Pandji yang menyentil fakta soal kasus oknum aparat kepolisian yang seharusnya jadi pelindung tetapi malah terlibat kasus pembunuhan.
Mi'ing mengajak semua pihak untuk legowo dan menerima sentilan sebagai kritik untuk perbaikan diri.
"Jadi, nggak perlu marah gitu loh, karena memang ada kok, oknum polisi yang seperti itu. Faktanya ada aparat penegak hukum yang buruk dan itu disampaikan melalui kritik yang dikemas dalam bentuk humor," katanya.
Bagi Mi’ing, sentilan dalam komedi seharusnya dipandang sebagai kritik untuk introspeksi, bukan sebagai serangan pribadi atau penghinaan.
Ia menilai bahwa panggung stand up comedy seperti yang disampaikan Pandji di Mens Rea justru jadi media untuk menyuarakan keresahan, di tengah harapan masyarakat agar bisa hidup lebih baik.