Cerita itu menunjukkan bagaimana dampak fisik yang dialaminya bukan sekadar keluhan ringan.
Akibat kejadian-kejadian tersebut, keluarganya beberapa kali khawatir terhadap keselamatannya. Adul menyadari bahwa pihak keluarga sering mempertanyakan tanggung jawab pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Namun ia lebih memilih meredam emosi keluarga agar situasinya tidak berkembang menjadi masalah lain. “Ya panik sih berapa kali, ‘Orang yang bikin lu begitu minta maaf nggak? Tanggung jawab nggak’. Sudah ini namanya kerjaan, dari pada nanti mikirnya nggak enak,” jelas Adul.
Ia menyampaikan bahwa kondisi saat ini sudah jauh berbeda. Dengan adanya aturan yang melarang unsur kekerasan dalam tayangan, risiko cedera dapat ditekan.
Aturan tersebut turut mengubah cara produksi program komedi yang sebelumnya masih mengandalkan aksi fisik. Adul menilai situasi ini membuat proses kerja menjadi lebih aman bagi para pelaku industri.
Meskipun mengalami berbagai kejadian tidak menyenangkan di masa lalu, Adul menyebut dirinya tidak memiliki trauma terhadap pengalaman tersebut.
Baginya, perubahan aturan dan kewaspadaan saat bekerja dapat menjadi penyangga untuk mencegah kejadian serupa. “Kalau kitanya, hati-hati ya hati-hati. Sekarang sudah ada aturan yang lebih inilah (ketat). Trauma sih nggak,” pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!