Aksi melibatkan gerakan saling mendorong, membanting, dan menari secara intens dalam sebuah area konser.
Meskipun terlihat seperti kekerasan, moshing merupakan cara penonton meluapkan emosi dan mengekspresikan kegembiraan mereka terhadap musik yang sedang dimainkan.
Namun, aksi ini tampaknya menuai respon berbeda dari aparat keamanan. Petugas yang seharusnya menjaga agar situasi tetap kondusif malah melakukan tindakan represif yang membuat Awan kesal.
Awan melihat aparat keamanan melakukan pemukulan dan tindakan tersebut dinilai bersifat menekan, setelah diduga terjadi pelanggaran atau penyimpangan.
Tindakan represif aparat keamanan dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan keadaan seperti semula atau memberikan sanksi pada penonton yang melewati batas atau dianggap tak tertib saat menonton konser.
Padahal, secara umum moshing merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang dianggap tidak melanggar hukum.
Awan Feast juga menyayangkan aparat keamanan yang melakukan kekerasan saat menertibkan penonton yang membawa bendera One Piece karena atribut animasi tersebut dinilai sebagai "acaman" yang memecah belah persatuan bangsa.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung beda perlakuan aparat yang membela pemerintah yang "menyusahkan" rakyat, seolah bangsa "masih terjajah", meski kini Indonesia sudah merdeka 80 tahun silam.
"Mau 17-an masih kaya gitu tuh, pajak makin gede ditarikin. Gila, katanya bangsa yang besar, emang iye besar pajaknya," sindir Awan.
Di penghujung video, bassist bernama lengkap Fadli Fikriawan itu juga mengaku tak takut jika akan ditangkap polisi setelah menyindir aparat keamanan selama konser.
"Udah tertangkep gue. Udah bilang kaya gini-gini ya, ntar mendadak juga ada yang DM, 'kamu lokasi dimana?' Ah, f**k! Katanya bangsa yang besar tapi takut sama bendera One Piece," pungkasnya.
Video Awan menyindir aparat keamanan yang menertibkan penonton membawa bendera One Piece seketika viral di media sosial.