Ia juga memahami kritik yang menyebut film "Merah Putih: One for All" tidak sebagus film animasi Indonesia terdahulu.
Animator yang berdomisili di Singapura ini meminta publik untuk menghargai karya anak bangsa dan berbagga degan film animasi yang dibuat sepenuh hati.
"Dengan waktu tersisa, saya berjibaku kejar target tayang. Karena kita tidak menggunakan AI jadi kualitas animasi juga tidak bagus," jelas Bintang.
"Jadi sekarang bebanggalah, meski bikin animasi jelek tapi dibuat dengan sepenuh hati dengan karya tangan dan otak manusia. Ke depannya kita akan melihat film animasi di bioskop yang keren dengan kualitas bagus tanpa bantuan AI," pungkasnya.
Pernyataan Bintang Takari ini menundang beragam respon dari warganet. Tak sedikit yang membandingkan film "Merah Putih: One for All" dengan "Jumbo".
Film animasi produksi Ryan Adriandhy tersebut juga diproduksi tanpa bantuan menggunakan AI dan bisa menghasilkan karya animasi dengan kualitas bagus, meski pembuatannya membutuhkan waktu hingga 5 tahun.
"Jumbo juga gapake AI, beneran murni anak bangsa, pake 200+ animator, tapi bagus tuh. Bikin film tergantung niat. Sorry not sorry, Merah Putih juga dubbingnya juga asal banget, gak ada emosi kaya anak SMK lagi disuru baca," komentar akun @sa****ah.
"Udah tahu gak masuk akal 3 bulan selesai, masih digarap aja. Mending bikin film yang bagusan dikit, gak harus dipaksain sekarang tapi kan bisa tahun depan. Pembelaan aja lah ini," koemntar akun @je****01.
Banyak pula warganet yang masih mempertanyakan dan meragukan soal anggaran film tersebut karena dinilai tak masuk akal.
"Katanya dibuat sepenuh hati, tapi asetnya hasil beli dari website (gak kreatif). Mana ada bikin film animasi modal sejuta? terus anggaran miliaran pada ke mana?" komentar akun @ka***so.
"Budgetnya yakin cuma sejuta? aset buat bikin film nyolong berarti? wkwk," sindir akun @sa****on.
Mengutip dari situs Motionville, biaya membuat animasi sederhana setidaknya membutuhkan biaya hingga USD300 atau sekitar Rp4,8 juta tiap detiknya.