Penyanyi lagu Sorai ini juga menggambarkan bahwa industri film itu begitu besar dan menakutkan, jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang musisi independen.
Baca Juga: Masih Sendiri dan Santai, Marshanda Buka Suara soal Jodoh saat Hadiri Resepsi Luna Maya
“Movie industry is big and scary, saya hanya seorang musisi yang baru pertama kali ini memperjuangkan sesuatu sebegininya,” lanjutnya.
Ungkapan itu tentu saja terlihat seperti tengah menggambarkan posisi Nadin yang merasa kecil di tengah kuatnya arus industri perfilman.
Meskipun telah menyadari perihal kemungkinan besar dirinya akan kalah dalam konflik ini, Nadin tetap ingin untuk mempertahankan nilai serta integritas pribadi dirinya sebagai salah satu bentuk dari perlawanan terakhir yang bisa ia lakukan.
Baca Juga: Al Ghazali dan Alyssa Daguise Buka Suara soal Isu Kehamilan, Justru Rencana Ini yang Mereka Umumkan
“You will win, but I’ll have my dignit.” pungkasnya.
Sebelumnya, permasalahan ini bermula semenjak bulan Februari 2024 lalu, ketika Nadin menolak permintaan SinemArt Pictures yang ingin menggunakan lagu Bertaut dalam proyek film mereka.
Penolakan itu terlihat disampaikan langsung oleh ibunda Nadin yang juga merangkap selaku manajer dari Nadin.
Namun, dua bulan setelahnya, Nadin justru mendapatkan kabar bahwa proyek film itu tetap dilanjutkan dengan menggunakan judul Bertaut Rindu.
Lewat unggahannya, Nadin turut membagikan tangkapan layar percakapannya dengan Tian Topandi, penulis buku Bertaut Rindu.
Dalam tangkapan layar yang dibagikan Nadin ini, Tian mengaku bahwa ia tidak tahu-menahu mengenai keputusan penggunaan tagline “semua impian berhak dirayakan” dan merasa tidak dilibatkan dalam keputusan penting produksi film.
Baca Juga: Ruben Onsu Ngamuk, Bongkar Identitas Pelaku Bully Thalia: 'Saya akan Kejar Sampai Dapat!'
“Ka Tian selaku penulis buku sudah bisa diajak berdiskusi dengan keterbukaan. Semoga ada pencerahan dari kebingungan ini,” tulis Nadin dalam unggahan lanjutan.