SketsaNusantara.id - Linimasa media sosial belakangan ini ramai membicarakan film horor psikologis berjudul "Aku Harus Mati" yang menuai kontroversi hingga mendapat kritik keras dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).
Film ini mendapat sorotan tajam karena strategi promosinya yang dinilai provokatif. Hal ini terlihat dari tampilan billboard "Aku Harus Mati" di berbagai daerah yang dianggap jadi trigger berbahaya bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Judul film tersebut juga dinilai terlalu sensitif dan dianggap tidak mempedulikan dampak psikologis bagi masyarakat hingga Lembaga Sensor Film (LSF) ikut turun tangan. Lantas, sebenarnya film "Aku Harus Mati" bercerita tentang apa?
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Rollink Action, film "Aku Harus Mati" (AHM) mengangkat kisah orang-orang yang rela menjual jiwa demi harta, mengutamakan validasi sekitar sampai terlilit hutang dan mengorbankan jiwa.
AHM menceritakan kisah Mala (diperankan Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjerat utang pinjaman online (pinjol) akibat tuntutan gaya hidup hedonistik.
Mala yang putus asa kembali ke panti asuhan, namun justru dihantui teror mistis. Di tengah usahanya melarikan diri dari tekanan utang, Mala ikut terjerumus dalam misteri rumah tua yang mengungkap rahasia kelam masa lalu yang melibatkan perjanjian pesugihan dengan iblis.
Film arahan sutradara Restu Saputra ini mengusung tema horor psikologis yang berfokus pada pergulatan batin seorang tokoh utama yang dihantui trauma, rasa bersalah, dan dorongan gelap dalam dirinya.
Tidak hanya menghadirkan sosok menyeramkan secara visual, film ini mengeksplorasi sisi psikologis manusia, tentang keputusasaan, ketakutan, dan konflik mental yang perlahan berubah menjadi teror nyata.
Dibintangi Hana Saraswati, Prasetya Agni, dan Bambang Paningron, film ini menghadirkan atmosfer mencekam yang tak sekadar mengandalkan jump scare, tetapi juga menyisipkan pesan tentang bahaya jeratan pinjol akibat gaya hidup hedon.
Namun, film ini memicu kontroversi karena pemasangan iklan dalam billboard dengan tulisan mencolok "Aku Harus Mati" dan visual yang cukup menyeramkan.
Publik menyoroti pemasangan billboard iklan film tersebut di jalan-jalan besar yang dapat dengan mudah dilihat oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak.
Banyak yang menilai judul film terlalu sensitif yang memicu ketidaknyamanan hingga kecemasan, terutama bagi individu yang rentan secara mental.
Artikel Terkait
Dikritik KPAI, Program Barak Militer Dedi Mulyadi Dianggap Tak Manusiawi dan Abaikan Hak Anak
Ahmad Dhani dan Mulan Jameela Laporkan Kasus Perundungan Anak ke KPAI, Feni Rose Buka Suara Singgung Soal Etika Orang Tua di Media Sosial
Netizen Desak KPAI Tindak Gus Elham Yahya yang Cium Anak Perempuan di Bawah Umur: Ayo Kerja Dong
Komnas Perlindungan Anak Buka Suara atas Laporan Farel Prayoga yang Minta Perlindungan KPAI, Singgung Dugaan Ekspolitasi
Sempat Heboh, Omara Esteghlal Soroti Rumor Film KKN di Desa Penari Diremake Hollywood, Lelucon April Mop Jadi Sindiran Kondisi Indonesia
Viral dan Menuai Pro Kontra, Ini Deretan Kontroversi Egi Fazri yang Disebut Pansos atas Kematian Vidi Aldiano