"Generasi kedua adalah generasi perjuangan melawan Belanda dan pencetus kemerdekaan. Ia adalah Soekarno," ujar Tialis.
Tialis melanjutkan, generasi ketiga adalah generasi perjuangan dan penata kemerdekaan. "Generasi ini dipegang oleh Soeharto yang kemudian diberi gelar Bapak Pembangunan Indonesia," terangnya.
Saat itu, sambung Tialis, semua wilayah di Indonesia banyak dibangun gedung-gedung sekolah SD. Yang belum memiliki kantor desa, lanjutnya, dibangunkan kantor desa. "Termasuk pembangunan sejumlah kantor-kantor DPRD adalah di masa Presiden Soeharto," beber Tialis.
Baca Juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Doa Bersama dan Tumpengan Menjadi Penanda Persiapan Lokasi Pembukaan
Generasi keempat, kata Tialis, adalah generasi penikmat kemerdekaan. "Dulu kita bepergian hanya jalan kaki. Perkembangan zaman, yang semula bepergian hanya mengendarai sepeda kayuh, kini naik sepeda motor dan lainnya," ucapnya.
Tialis menegaskan, jangan sampai muncul generasi kelima, yakni generasi perusak kemerdekaan. "Banyak sekali contohnya. Narkoba, korupsi, makar, dan perilaku yang negatif lainnya. Ini semua harus kita hindari jika ingin bangsa ini selamat," pintanya.
Tidak hanya di peringatan Kemerdekaan RI ke-81, warga di dusun tersebut selalu antusias mengikuti acara yang sudah dipersiapkan oleh para pemuda. Baik warga NU maupun Muhammadiyah, mereka tampak khidmat.
Mulai dari acara dibuka, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan diakhiri doa yang dipimpin oleh tokoh NU dan Muhammadiyah secara bergantian.
Di penghujung acara, warga tidak lantas bubar, mereka tampak guyub menikmati tumpeng yang diolah dan dihidangkan oleh warga di Dusun Jayan sendiri.***