Menurutnya, para santri yang telah berhasil menghafal Al-Qur'an sejatinya telah memiliki modal penting berupa kedisiplinan, ketekunan, fokus, dan kemampuan mengelola waktu. "Modal tersebut dapat menjadi bekal untuk berkiprah di berbagai bidang profesi tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur'an," ungkap dia.
Ia menegaskan bahwa wisuda tahfidz bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan titik awal pengabdian kepada masyarakat.
"Setelah khatmil Qur'an dan wisuda selesai, pertanyaan terbesarnya bukanlah akan menjadi apa, tetapi melalui jalan apa kita akan mengabdi kepada Allah. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang hafal Al-Qur'an, tetapi membutuhkan orang yang menghadirkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam setiap profesi," ungkapnya.
Melalui seminar ini, para santri diharapkan mampu mengenali potensi yang dimiliki, menyusun visi masa depan, serta menjadi generasi penghafal Al-Qur'an yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan agama.
"Kita tidak harus menjadi orang lain. Tugas kita adalah menemukan potensi yang Allah titipkan dalam diri kita, lalu mengembangkannya agar menjadi manfaat bagi sesama," tegas Elysa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini