SketsaNusantara.id - Kasus dugaan penipuan perjalanan umrah yang menyeret Hanania Travel terus menjadi perhatian publik.
Sejumlah calon jemaah mulai membagikan pengalaman mereka setelah gagal berangkat sesuai jadwal yang telah dijanjikan.
Di tengah proses hukum yang berjalan, berbagai kisah korban bermunculan di media sosial. Salah satunya datang dari seorang calon jemaah yang mengaku telah menyiapkan biaya umrah untuk ibunya sejak akhir tahun 2024.
Cerita tersebut menjadi sorotan karena menggambarkan perjalanan panjang seorang anak yang berusaha mewujudkan impian ibadah umrah orang tuanya. Namun harapan itu akhirnya tertunda setelah muncul persoalan yang kini tengah diselidiki aparat penegak hukum.
Melalui unggahan di Threads, akun @annisavianti mengungkapkan bahwa dirinya mulai menabung untuk biaya umrah sang ibu sejak penghujung 2024. Setelah seluruh biaya dinyatakan lunas pada Maret 2026, ia memperoleh jadwal keberangkatan pada 17 Juni 2026.
Saat itu, ia mengaku percaya terhadap Hanania Travel karena perusahaan tersebut dikenal luas di kalangan masyarakat. Kepercayaan tersebut membuat keluarganya tetap melanjutkan proses hingga seluruh pembayaran selesai dilakukan.
Dalam perjalanannya, keberangkatan umrah yang dijadwalkan pada periode Syawal 2026 sempat menghadapi sejumlah kendala. Salah satu yang menjadi perhatian ketika itu adalah kondisi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, pihak travel disebut tetap memberikan keyakinan kepada para calon jemaah bahwa keberangkatan akan berlangsung sesuai rencana. Informasi tersebut membuat sebagian calon jemaah tetap menunggu jadwal yang telah ditentukan.
“Tiba-tiba muncul berita bahwa grup bulan Syawal 2026, semua dicancel sepihak oleh Hanania. Karena saya takut ibuku kena, saya ke kantornya untuk pengajuan refund saja. Tapi, dapat angin segar bahwa Juni-Juli itu aman dan tetap on schedule,” tulisnya.
Menurut pengakuannya, informasi yang diterima dari pihak pemasaran juga mengarah pada kepastian keberangkatan untuk periode Juni hingga Juli 2026. Karena itu, keluarga masih berharap perjalanan ibadah tersebut dapat terlaksana.
Namun situasi berubah ketika pada 27 Mei 2026 muncul informasi bahwa pihak perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban pemberangkatan jemaah. Informasi tersebut berkaitan dengan keberangkatan Juni-Juli maupun jadwal pengganti untuk kelompok Syawal.
Keesokan harinya, sejumlah calon jemaah mendatangi kantor pusat Hanania Travel untuk memperoleh penjelasan langsung. Dalam pertemuan itu, Farhan yang disebut sebagai pimpinan perusahaan menyampaikan beberapa pilihan kepada para jemaah.