Wijayanto selaku Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG juga mengungkap bahwa gempa serupa pernah terjadi 3 dekade sebelumnya yang kembali melepaskan energi besar tahun ini.
"Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M7.8 hingga M7.9 SR. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan terjadi tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores," tutur Wijayanto.
Di tengah simpang siur informasi, BMKG juga memastikan bahwa gempa M 7,7 di Laut Flores ini bukan termasuk dalam kategori megathrust.
Gempa di perairan NTT dipicu akibat pelepasan energi cukup besar dalam lempeng atau sesar naik Flores Back-Arc Thrust yang posisinya berada di belakang busur kepulauan Flores, bukan di zona megathrust.
Meski gempa akibat sesar naik di perairan Flores berkekuatan tinggi yang menimbulkan dampak kerusakan, namun tak sering menimbulkan tsunami seperti yang terjadi di zona megathrust.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang juga mengatakan bahwa sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif yang berada di bagian utara Pulau Flores yang sebelumnya pernah terjadi tsunami pada tahun 1992.
Meski Peringatan Dini Tsunami telah diakhiri dan gelombang laut kembali normal, BMKG meminta masyarakat untuk sementara menjauhi pesisir di wilayah NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan.
Masyarakat dianjurkan untuk menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan pasca terjadi gempa, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemungkinan terjadinya gempa susulan.
"Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi. Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab," pesan BMKG melalui situs resminya.
"BMKG terus memonitor perkembangan gempa bumi susulan serta dinamika tinggi muka laut secara real-time. Kami menghimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dengan selalu memantau pembaruan informasi dari aplikasi maupun, situs resmi, atau media sosial terverifikasi dari BMKG," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Bukan Megathrust, BMKG Beberkan Hasil Analisis Terkait Gempa 6,3 SR yang Mengguncang Bengkulu, Ternyata Ini Alasannya Tak Ada Gempa Susulan
Viral Video Paus Beluga Terdampar di Kamchatka Rusia Sebelum Terjadi Gempa dan Tsunami, Ternyata Cuma Hoaks? Begini Faktanya
Analisis BMKG Terkait Gempa Bumi 6,5 SR yang Mengguncang Sumenep Madura, Terpantau Puluhan Kali Terjadi Gempa Susulan dan Tidak Berpotensi Tsunami
Penjelasan BMKG Usai Gempa 6,7 SR Mengguncang Palu Sulawesi Tengah dan Tak Berpotensi Tsunami, Tercatat Sudah 20 Kali Terjadi Gempa Susulan
Gempa 7,1 SR Kumamoto Jepang Berpusat di Darat, Mengapa Bisa Berpotensi Terjadi Tsunami? Berikut Penjelasannya dan Dampak bagi Indonesia