Jumat, 26 Juni 2026

Didukung KUR BRI, Kepala Sekolah di Jombang Ini Sukses Kembangkan Usaha Kerajinan Tangan Berbahan Limbah Kayu

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Kamis, 25 Juni 2026 | 22:25 WIB
Sakronii Sidiq menunjukkan hasil kerajinan tangannya yang berbahan limbah kayu. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Sakronii Sidiq menunjukkan hasil kerajinan tangannya yang berbahan limbah kayu. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

SketsaNusantara.id – Setiap pukul 14.00 sampai 19.00 suara desingan mesin gergaji kerap terdengar di belakang rumah Sahroni Sidiq (46). Di waktu itu, aktivitas produksi kerajinan tangan berbahan  limbah kayu sedang dalam proses.

Dari tangan terampil Sahroni, kayu-kayu yang semula tidak berguna ia sulap menjadi berbagai barang yang bernilai seni. Seperti gantungan kunci, hiasan dinding, kitchen set mini, stand HP, rak meja mini, dan lainnya.

Pak Roni, demikian sapaan akrabnya, memilih mengerjakan di siang hari karena menyesuaikan waktu yang tepat. Diketahui, ia merupakan kepala sekolah madrasah ibtidaiyah (MI) swasta yang ada di desanya, Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang, Jatim. “Saya harus mengutamakan tanggung jawab di sekolah dulu,” kata dia, akhir pekan lalu.

Sahroni menceritakan, pekerjaan tambahan itu dilakoni sejak tahun 2021. Ide membuat berbagai kerajinan tangan diakuinya saat pandemi Covid-19, karena adanya kebijakan pembatasan interaksi sosial.

“Waktu Covid kita sering di rumah. Dari situ muncul ide membuat kerajinan ini,” ujar Sahroni.

Baca Juga: Pesta Rakyat Monas Jadi Ajang Naik Kelas UMKM, 42.000 Produk Banten Tampil di Event Nasional Perdana

Dipilihnya berbagai kerajinan kayu itu karena tidak membutuhkan modal besar dan mudah mendapatkan bahan. Namun, tatkala ada pemesanan banyak, kendala mulai muncul. Sahroni berkata, pekerjaan memakan waktu lama karena masih menggunakan peralatan manual.

“Selain waktu yang lama, menggunakan alat manual hasilnya kurang sempurna. Misal menggergaji. Berbeda dengan menggunakan mesin gergaji, hasilnya pasti presisi. Memakai mesin juga memudahkan pekerjaan yang rumit, ” terang Sahroni.

Sahroni merinci, sebelum menggunakan mesin, untuk satu buah kerajinan membutuhkan waktu 1 jam. Berbeda dengan memakai mesin, dia hanya butuh waktu 30 menit per buahnya.

“Dulu sebelum memakai mesin, dalam waktu 5 jam saya hanya bisa membuat 2 sampai 3 buah. Di samping itu memang masih sepi pemesanan. Sekarang dengan waktu yang sama bisa sampai 6 sampai 7 buah. Itu sudah selesai packing dan siap antar,” katanya.

Akses Perbankan

Seiring dengan semakin bertambahnya pesanan, permodalan menjadi satu-satunya solusi tepat mengatasi kendala yang dirasakan Sahroni. Dia mulai mengakses pinjaman ke bank.

Sahroni berkata, di awal 2024 ia mendapat pinjaman dari saudaranya sebesar Rp10 juta. “Saya ditawari saudara karena mendapat pinjaman besar dari KUR BRI. Dengan pertimbangan bunga yang kecil akhirnya saya menerima Rp10 juta,” kenang bapak 3 anak ini.

Pinjaman tersebut oleh Sahroni dibuat untuk membeli kebutuhan peralatan mesin seperti scroll saw, table saw. Selebihnya untuk pembelian bahan baku kayu pinus dan jati. Dari alat dukung itu, produksi kerajinan tangan Sahroni mulai stabil. Ia dapat memenuhi pemesanan dalam jumlah banyak. 

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X