SketsaNusantara.id – Banjir Aceh dan Sumatra mengingatkan kita pada sosok Aureien Francis Brule atau yang lebih dikenal sebagai Chanee Kalaweit terkait kebijakan pemerintah tentang pelestarian alam Indonesia.
Chanee Kalaweit merupakan pendiri Yayasan Kalaweit yang pernah secara blak-blakan mengungkapkan tantangan berat konservasi justru datang dari pemerintah Indonesia sendiri.
Setelah lebih dari seperempat abad mengabdikan hidupnya di hutan Kalimantan dan Sumatra, Chanee mengaku bahwa selama periode sembilan tahun terakhir, Yayasan Kalaweit merasa tidak hanya diabaikan tetapi juga ditekan oleh birokrasi Kementerian Kehutanan.
"Kami selama ini cukup dicuekin oleh kementerian kehutanan sebelumnya, bukan hanya dicuekin, Selama 9 tahun akhir masa jabatan menteri sebelumnya, 9 tahun kami tidak hanya dicuekin tapi kami ditekan, perizinan kami tidak diperpanjang," ungkap Chanee Kalaweit dikutip dari kanal YouTube pribadinya, chaneekalaweit.
"Bahkan kami dibatasi, dilarang pos di media sosial hal-hal yang tidak disukai oleh kementerian tentang konservasi," imbuhnya.
Chanee Kalaweit sendiri telah menjadi WNI dan mendirikan Yayasan Kalaweit pada tahun 1998, dengan fokus utama pada penyelamatan dan rehabilitasi owa, siamang, serta satwa liar endemik lainnya.
Organisasi ini telah diakui secara luas, bahkan menjadi proyek rehabilitasi owa terbesar di dunia.
Namun dalam sebuah pernyataan yang ia sampaikan melalui kanal YouTube pribadinya tersebut, Chanee mengungkapkan bagaimana hubungan kemitraan antara organisasi konservasi non-pemerintah (NGO) sekelas Kalaweit dengan kementerian terkait mengalami kebuntuan yang parah.
Menurutnya, selama periode itu kementerian sebelumnya yakni Yayasan Kalaweit menghadapi berbagai kesulitan birokrasi yang membatasi pergerakan dan upaya konservasi mereka.
Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Pemerintah Gagal Menanggulangi Bencana di Sumatra: Bangsa Kaya Raya tapi Paradoks
Dimana tekanan yang dialami meliputi perizinan yang tidak diperpanjang, pembatasan media sosial tentang konservasi hingga terputusnya dialog antara NGO sebagai mitra dengan pihak kementerian.
Chanee mengaku bahwa selama 27 tahun berjuang lewat yayasan Kalaweit, walaupun jadi mitra Kementrian Kehutanan, walaupun mendapatkan banyak sekali dukungan dari masyarakat namun justru diabaikan oleh kementrian kehutanan sendiri yang saat dipimpin oleh Siti Nurbaya Bakar.
Artikel Terkait
Galang Donasi untuk Korban Banjir, Meisya Siregar Ungkap Alasannya Tak Bisa Datang Langsung ke Sumatra: Kalau Safar Jauh...
Prihatin dengan Banjir Sumatra, Meisya Siregar Mengaku Kecewa dengan Pemerintah: Banyak Statement yang...
Banjir Pujian, Momen Haru Willie Salim saat Letakkan Batu Pertama Pembangunan Rumah Baru Bagi Korban Banjir Sumatra
Ferry irwandi Bawa 10 Ton Bantuan untuk Korban Banjir di Sumatra Barat, Sampaikan Terima Kasih Kepada Polri dan TNI untuk Transportasi Udara
Verrel Bramasta Pakai Rompi Anti Peluru saat Berkunjung ke Lokasi Bencana Banjir di Sumatra, Venna Melinda: Semangat ya, Anakku
Ingin Bantu Korban Banjir Sumatra, 4 Bantuan Internasional Ini Menunggu Lampu Hijau dari Pemerintah Indonesia