Kamis, 9 Juli 2026

Kisah Chanee Kalaweit, 9 Tahun Konservasi di Tengah Tekanan Kementerian Kehutanan Era Jokowi

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Senin, 8 Desember 2025 | 09:31 WIB
Chanee Kalaweit pendiri Yayasan Kalaweit  (Instagram @chaneekalaweit)
Chanee Kalaweit pendiri Yayasan Kalaweit (Instagram @chaneekalaweit)

SketsaNusantara.idBanjir Aceh dan Sumatra mengingatkan kita pada sosok Aureien Francis Brule atau yang lebih dikenal sebagai Chanee Kalaweit terkait kebijakan pemerintah tentang pelestarian alam Indonesia.

Chanee Kalaweit merupakan pendiri Yayasan Kalaweit yang pernah secara blak-blakan mengungkapkan tantangan berat konservasi justru datang dari pemerintah Indonesia sendiri.

Setelah lebih dari seperempat abad mengabdikan hidupnya di hutan Kalimantan dan Sumatra, Chanee mengaku bahwa selama periode sembilan tahun terakhir, Yayasan Kalaweit merasa tidak hanya diabaikan tetapi juga ditekan oleh birokrasi Kementerian Kehutanan.

 Baca Juga: Sungai Guwo Berubah Drastis dan Membelah Jadi Tiga: Ferry Irwandi Ungkap Fakta Mengerikan di Balik Banjir Bandang Aceh-Sumatra

"Kami selama ini cukup dicuekin oleh kementerian kehutanan sebelumnya, bukan hanya dicuekin, Selama 9 tahun akhir masa jabatan menteri sebelumnya, 9 tahun kami tidak hanya dicuekin tapi kami ditekan, perizinan kami tidak diperpanjang," ungkap Chanee Kalaweit dikutip dari kanal YouTube pribadinya, chaneekalaweit.

"Bahkan kami dibatasi, dilarang pos di media sosial hal-hal yang tidak disukai oleh kementerian tentang konservasi," imbuhnya.

Chanee Kalaweit sendiri telah menjadi WNI dan mendirikan Yayasan Kalaweit pada tahun 1998, dengan fokus utama pada penyelamatan dan rehabilitasi owa, siamang, serta satwa liar endemik lainnya. 

Baca Juga: SPPG Gerak Cepat Selamatkan Akses Gizi Ribuan Warga di Aceh dan Sumatra: Upaya Kemanusiaan Badan Gizi Nasional di Tengah Bencana Banjir dan Gangguan

Organisasi ini telah diakui secara luas, bahkan menjadi proyek rehabilitasi owa terbesar di dunia.

Namun dalam sebuah pernyataan yang ia sampaikan melalui kanal YouTube pribadinya tersebut, Chanee mengungkapkan bagaimana hubungan kemitraan antara organisasi konservasi non-pemerintah (NGO) sekelas Kalaweit dengan kementerian terkait mengalami kebuntuan yang parah.

Menurutnya, selama periode itu kementerian sebelumnya yakni Yayasan Kalaweit menghadapi berbagai kesulitan birokrasi yang membatasi pergerakan dan upaya konservasi mereka. 

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Pemerintah Gagal Menanggulangi Bencana di Sumatra: Bangsa Kaya Raya tapi Paradoks

Dimana tekanan yang dialami meliputi perizinan yang tidak diperpanjang, pembatasan media sosial tentang konservasi hingga terputusnya dialog antara NGO sebagai mitra dengan pihak kementerian.

Chanee mengaku bahwa selama 27 tahun berjuang lewat yayasan Kalaweit, walaupun jadi mitra Kementrian Kehutanan, walaupun mendapatkan banyak sekali dukungan dari masyarakat namun justru diabaikan oleh kementrian kehutanan sendiri yang saat dipimpin oleh Siti Nurbaya Bakar.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: YouTube Chanee Kalaweit

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X