SketsaNusantara.id - Kurma menjadi salah satu makanan yang paling sering dikonsumsi saat Ramadan dan Lebaran. Rasanya manis alami, juga dipercaya memiliki banyak manfaat kesehatan.
Tidak heran jika banyak orang memilih kurma sebagai pengganti camilan manis, terutama bagi penderita diabetes yang ingin menjaga kadar gula darah.
Ulama sekaligus dokter Zaidul Akbar mengatakan bahwa makan kurma lebih baik daripada konsumsi nasi berlebih atau makanan manis lainnya, terlebih saat perut sedang kosong setelah berpuasa.
Baca Juga: Jangan Sampai Mabuk Merusak Momen Mudik Lebaran Anda, Ini Tips Ampuhnya!
Secara medis, kurma termasuk makanan dengan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beberapa makanan pokok, termasuk nasi putih, namun dinilai lebih sehat dibanding makanan manis lainnya yang punya kandungan gula lebih tinggi.
Hal inilah yang membuat kurma sering dianggap lebih aman dikonsumsi, bahkan oleh penderita diabetes, selama jumlahnya tetap terkontrol.
Meski demikian, anggapan bahwa kurma bisa dimakan sebanyak mungkin tanpa memengaruhi gula darah juga tidak sepenuhnya benar.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube dr. Zaidul Akbar dan berbagai sumber, berikut alasan mengapa konsumsi kurma lebih aman dan tips aman konsumsi kurma untuk penderita diabetes agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.
1. Kurma Memiliki Indeks Glikemik Lebih Rendah
Indeks glikemik (IG) adalah ukuran yang menunjukkan seberapa cepat makanan meningkatkan kadar gula darah. Semakin tinggi angka IG, semakin cepat gula darah naik setelah makanan dikonsumsi.
Kurma memiliki indeks glikemik sekitar 42–55, yang tergolong rendah hingga sedang. Artinya, gula dalam kurma diserap tubuh lebih lambat dibandingkan gula pasir atau makanan dengan IG tinggi.
Sebagai perbandingan, nasi putih memiliki indeks glikemik yang lebih tinggi, biasanya berada di atas 60 hingga 70, tergantung jenis beras dan cara memasak.
Inilah alasan mengapa kurma sering dianjurkan sebagai sumber energi yang lebih stabil, terutama saat berbuka puasa atau sebagai camilan.