“Ga semua orang bisa lari dengan heart rate tinggi ketika di event lari. Semua yg bisa itu ya karena latian konsisten. Ini semua semata2 demi mitigasi risiko,” tulis dr. Tirta dalam caption unggahannya.
Dengan demikian, ia ingin mengingatkan bahwa kemampuan seseorang mencapai detak jantung tinggi saat berlari tanpa mengalami masalah tidak bisa dipukul rata untuk semua orang.
“Edukasi soal ini sudah pernah dibuat dan diutarakan oleh 2 dokter jantung yg hobi olahraga,” ungkapnya.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa diskusi mengenai hal tersebut bukan sekadar opini pribadi, melainkan bagian dari informasi yang sudah dibahas dalam komunitas medis, khususnya yang memiliki minat terhadap olahraga endurance.
Dari keseluruhan pesan, terlihat bahwa edukasi yang diberikan menekankan tiga poin utama, yaitu konsistensi latihan, adaptasi tubuh yang bertahap, dan mitigasi risiko kesehatan.
Meski berlari dengan heart rate tinggi diperbolehkan dalam konteks race, hal tersebut tidak bisa dilakukan secara asal tanpa proses adaptasi yang benar.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!