“Jadi, saya nggak tahu yang saya omongkan ini benar apa enggak, dalam apa enggak, penting apa enggak. Yang penting saya harus ngomong. Yang penting saya harus tampil. Yang penting saya harus komen. Yang penting saya harus update. Jadi, peradaban seperti ini nanti menghasilkan gaya hidup yang dangkal,” katanya.
Menurutnya, cara hidup yang seperti itu sulit untuk membawa seseorang pada kebiasaan berpikir dalam.
Akibatnya, ketika berhadapan dengan filsafat yang membutuhkan ketekunan dan refleksi, banyak yang merasa kesulitan atau bahkan tidak tertarik.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!