SketsaNusantara.id - Di era digital seperti sekarang, hampir setiap orang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel. Mulai dari membuka media sosial, membaca berita, hingga menonton video pendek yang terus menerus menggoda untuk digulirkan.
Namun tanpa disadari, kebiasaan ini dapat berubah menjadi pola yang merugikan, terutama saat kita larut dalam membaca informasi negatif. Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir (scrolling) konten secara berlebihan, terutama konten yang bernada negatif, seperti berita tentang bencana, kriminalitas, krisis ekonomi, hingga konflik global.
Baca Juga: Dokumen Cerai Bocor, Paula Verhoeven Diterpa Tuduhan Serius soal Kesehatan Mental
Menurut Dr. Susan Albers, PsyD, seorang psikolog dari Cleveland Clinic, doomscrolling adalah dorongan untuk terus membaca berita negatif secara online karena kekhawatiran akan ketinggalan informasi (FOMO/Fear of Missing Out), meskipun itu membuat perasaan menjadi lebih buruk.
“Perilaku ini bukan lagi tentang mencari informasi, tapi lebih karena dorongan emosional untuk meredakan kecemasan,” ujar Dr. Susan, dikutip SketsaNusantara.id dari Cleveland Clinic.
Mengapa Doomscrolling Terjadi?
Doomscrolling berkaitan erat dengan respons otak terhadap rasa takut dan ketidakpastian.
Saat seseorang merasa cemas otak cenderung mencari informasi yang sejalan dengan apa yang dirasakan.
Hal ini tidak membantu meredakan kecemasan, konsumsi informasi negatif secara terus-menerus justru bisa memperburuk kondisi emosional.
Dampak Doomscrolling bagi Kesehatan Mental