"Adanya sisa energi dan suplai darah serta pasokan oksigen terhenti menyebabkan terjadinya kontraksi serabut otot dalam daging kurban yang tidak beraturan sampai energi benar-benar habis," tuturnya.
"Daging yang masih berdenyut ini sebaiknya didiamkan dahulu hingga proses rigor mortis selesai atau pelayuan daging dan baru bisa dimasak untuk dikonsumsi," ucap Sarah.
Nanung Danar Dono, Direktur Halal Research Centre Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menjelaskan bahwa fenomena ini sebenarnya adalah hal yang wajar dan sering terjadi, terutama di rumah potong hewan (RPH).
Nanung menegaskan bahwa daging yang masih berdenyut-denyut bukan pertanda bahwa hewan tersebut masih hidup. Sebaliknya, ini merupakan tahapan normal dalam proses konversi otot menjadi daging.
Baca Juga: Masih Gerak Setelah Disembelih, Apakah Kurban Tetap Sah? Simak Penjelasan Lengkap dari Buya Yahya!
“Kejadian seperti itu normal dan biasa saja terlihat di rumah potong hewan. Masyarakat heboh mungkin karena ada yang masih asing dan baru pertama kali melihat kejadian ini," ujar Nanung.
Penjelasan ilmiah di balik fenomena ini berkaitan dengan cadangan energi di otot hewan, yang disebut Adenosine Triphosphate (ATP).
Setelah hewan disembelih, otot masih memiliki sisa ATP yang belum habis. Energi ini memungkinkan serat otot untuk berkontraksi, sehingga menimbulkan gerakan seperti denyutan.
Proses ini merupakan bagian dari rigor mortis yakni tahap kontraksi otot berubah dari keadaan relaksasi menjadi kaku sebelum akhirnya menjadi daging yang siap dikonsumsi.
Dalam beberapa jurnal penelitian disebutkan bahwa lamanya waktu daging berdenyut hingga berhenti sangat dipengaruhi oleh jumlah ATP yang tersisa di otot.
Biasanya, gerakan rihor mortis dari daging sapi pada bagian tertentu dapat berlangsung sekitar 5-6 jam. Setelah itu, otot akan kehilangan energi dan berhenti bergerak.
Fenomena ini tidak berbahaya dan tidak memengaruhi kualitas daging untuk dikonsumsi, asalkan proses penyembelihan dan penanganan daging dilakukan dengan benar.