SketsaNusantara.id - Bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Raden Ajeng Kartini (RA Kartini) dalam memperjuangkan emansipasi perempuan.
Salah satu yang dikenang adalah kisah tragis wafatnya Kartini yang menjadi pengingat penting akan bahaya kesehatan yang bisa mengintai ibu hamil.
RA Kartini meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, yakni 25 tahun, setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit. Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, penyebab kematiannya diduga karena preeklamsia.
Lantas, apa itu Preeklamsia? Apa yang perlu diwaspadai dari penyakit ini bagi ibu hamil dan bagaimana cara pencegahannya?
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @kemenkes_ri, Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
"Preeklamsia terjadi karena adanya kelainan pada plasenta yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah dan gangguan organ lainnya," tulis akun Instagram @kemenkes_ri dalam postingan yang diunggah pada 30 Agustus 2024.
Gangguan ini bisa terjadi biasanya setelah usia kehamilan 20 minggu, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kerusakan organ, paling sering pada ginjal dan hati.
Gejala umum meliputi pembengkakan di tangan, kaki hingga wajah, disertai sakit kepala parah, gangguan penglihatan, nyeri di perut bagian atas, bahkan memicu mual dan muntah yang tak biasa.
Beberapa faktor yang meningkatkan resiko preeklamsia adalah usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua, dengan kondisi kesehatan tertentu seperti tekanan darah tinggi atau diabetes.
Baca Juga: Amalan Agar Anak Sholeh dan Cerdas dari Ustadz Adi Hidayat Lakukan Ini Pada Masa Kehamilan
Kementerian Kesehatan RI menyebut Preeklamsia tidak hanya berdampak pada ibu, tetapi kondisi ini juga bisa memengaruhi kesehatan bayi di dalam kandungan.
Jika tidak ditangani dengan baik, preeklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia yakni kondisi yang lebih parah dengan risiko kejang, stroke, hingga kematian.