SketsaNusantara.id - Tanggal 2 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day (WAAD).
Peringatan ini merupakan momen penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang hak-hak penyandang autisme.
Tujuannya untuk mendukung individu dengan autisme agar dapat hidup secara inklusif dalam masyarakat. Lantas, bagaimana sejarah dan asal mula peringatan World Autism Awareness Day ini?
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman United Nations (UN), Autisme merupakan istilah yang pertama kali digagas oleh psikiater Eugen Bleuler pada tahun 1911.
Autisme merupakan gambaran terhadap individu dengan gejala tertentu yang dianggap sebagai gejala skizofrenia. Seseorang yang mengidap autisme akan menarik diri dari pergaulan ekstrem dan susah membaur dengan masyarakat normal.
Gangguan Spektrum Autisme (GSA) adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial seseorang.
Kondisi ini ditandai dengan kesulitan dalam berkomunikasi, keterbatasan dalam bersosialisasi, serta pola perilaku berulang.
Istilah autisme pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner pada tahun 1943 dalam artikelnya yang berjudul "Autistic Disturbances of Affective Contact". Ia menggambarkan autisme sebagai gangguan sosial dan emosional yang menghambat interaksi individu dengan orang lain.
Setahun kemudian, pada 1944, Hans Asperger menerbitkan artikel yang menjelaskan autisme sebagai kondisi yang dialami anak-anak dengan kecerdasan normal, tetapi mengalami kesulitan dalam keterampilan sosial dan komunikasi.
Penelitian dari kedua ilmuwan tersebut menjadi dasar pemahaman modern tentang autisme dan mendorong lahirnya Hari Peduli Autisme Sedunia, yang diperingati setiap 2 April.
Peringatan ini diresmikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 18 Desember 2007. Penetapan ini diusulkan oleh Negara Qatar dan didukung oleh semua negara anggota PBB.