Kamis, 4 Juni 2026

Mengupas Filosofi Lebaran Ketupat, Miliki Makna Lebih dari Sekadar Tradisi Makan Bersama

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Jumat, 27 Maret 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi perayaan lebaran ketupat  (Kemendikbudristek)
Ilustrasi perayaan lebaran ketupat (Kemendikbudristek)

SketsaNusantara.id – Seminggu setelah perayaan Idul Fitri, masyarakat di berbagai penjuru Jawa, termasuk di Jember, bersiap merayakan Lebaran Ketupat atau yang akrab disebut Kupatan.

Tradisi yang jatuh pada H+7 Lebaran ini bukan sekadar ajang makan besar kedua, melainkan simbolisasi permohonan maaf dan pembersihan diri secara komunal dikutip dari Kemendikbudristek.

Sejarah Singkat Tradisi Kupatan 

Tradisi ini diyakini diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Walisongo. Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan Islam, salah satunya melalui dua kali lebaran yakni Idul Fitri dan Lebaran Ketupat.

Baca Juga: Kehadirannya Tidak Pernah Absen di Momen Lebaran, Apa Makna Ketupat yang Menjadi Ikon Hari Raya Idul Fitri?

Setelah berpuasa sunnah Syawal selama enam hari, masyarakat kemudian merayakannya dengan saling berbagi ketupat.

Filosofi dibalik "Kupat"

Kata "Ketupat" atau "Kupat" bukan sekadar nama makanan, melainkan akronim dari bahasa Jawa yang sarat makna:

• Ngaku Lepat (Mengakui Kesalahan)

Tradisi ini mendorong setiap individu untuk berani mengakui kesalahan (lepat) kepada sesama. Ini tercermin dalam ritual saling berkunjung dan membagikan hidangan ketupat sebagai tanda ketulusan hati.

Baca Juga: Rahasia Ketupat Lebaran Hemat Gas, Matang Sempurna dan Pulen Hanya dalam 30 Menit

• Laku Papat (Empat Tindakan)

Filosofi ini mencakup empat perilaku mulia:

- Lebaran: Usainya waktu puasa.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Kemendikbudristek

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X