Minggu, 19 Juli 2026

Menguak Makna Siraman, Prosesi Budaya Jawa Pada Pernikahan Pasangan Keturunan Eropa, Luna Maya dan Maxime Bouttier

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Selasa, 6 Mei 2025 | 21:30 WIB
Prosesi siraman pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier  (Tangkapan layar YouTube TS Media)
Prosesi siraman pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier (Tangkapan layar YouTube TS Media)

SketsaNusantara.id - Luna Maya dan Maxime Bouttier akan segera melepas masa lajang, Selasa 6 Mei 2025 pernikahan keduanya memasuki prosesi siraman.

Prosesi siraman Luna Maya dan Maxime Bouttier dilakukan ditempat yang sama yakni di Ubud Bali dimana ijab qobul keduanya akan dilaksanakan.

Meski antara Luna dan Maxime merupakan anak-anak keturunan Eropa namun Luna Maya sendiri memiliki darah Bojonegoro dari sang ayah, Uut Bambang.

Baca Juga: 4 Fakta Menarik Acara Siraman Luna Maya dan Maxime Bouttier di Bali, Tampan dan Cantik Bak Pangeran dan Putri Jawa

Dan kini Luna Maya yang merupakan keturunan Austria dari sang ibu dan Maxime Bouttier keturunan Prancis dari sang ayah, rupanya memilih untuk menempatkan prosesi Jawa dalam pernikahan mereka, yakni siraman.

Siraman dalam budaya Jawa, merupakan upacara yang dilakukan sebelum pernikahan dimana prosesi ini memiliki makna budaya yang mendalam dan kaya akan simbolisme. 

Dikutip dari laman researchgate.net, secara harfiah, "siraman" berarti "mandi" atau "menyiram dengan air." 

Baca Juga: Luna Maya dan Maxime Bouttier Unggah Momen Tak Terduga Ini Sebelum Jalani Proses Siraman di Bali, Warganet Heboh!

Prosesi siraman sendiri akan mulai dengan sungkeman dan doa, diikuti penyiraman oleh orang tua dan sesepuh

Dalam siraman biasanya akan menggunakan air dari 7 sumber atau bahkan menggunakan air zam-zam dan bunga setaman.

Penggunaan tujuh sumber air ini konon melambangkan harapan agar pertolongan dan rezeki datang dari berbagai arah dalam kehidupan pernikahan calon pengantin. 

Baca Juga: Sehari Sebelum Nikah, Luna Maya dan Maxime Pilih Menyepi: Fans dan Wartawan Diminta Jangan Ganggu Dulu

Tidak hanya dari 7 sumber mata air, yang menyiramkan air ke calon pengantin adalah tujuh orang yakni sesepuh atau tokoh penting dalam keluarga dan masyarakat. 

Dalam kepercayaan Jawa, angka tujuh memiliki konotasi positif dan sering dikaitkan dengan hal-hal yang baik. Selain "pitulungan", angka ini juga melambangkan kesempurnaan, kelengkapan, dan keberuntungan.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: laman researchgate.net

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X