sports

Viral Pemain Muda Gagal Masuk EPA Madura United Gara-Gara Biaya Rp15 Juta, Klub Buka Suara dan Jelaskan Rinciannya

Jumat, 12 September 2025 | 13:30 WIB
Potret pesepak bola yang mengunggah dirinya gagal masuk EPA Madura United karena terhalang ekonomi. (TikTok/ajikusumaa5)

Zia juga menambahkan bahwa kabar miring di luar soal SPP tidak benar. Menurutnya, biaya itu digunakan untuk menunjang kebutuhan siswa selama menimba ilmu sepak bola di Madura United Football Academy sepanjang kompetisi EPA 2025/26.

Baca Juga: Shin Tae Yong Luncurkan Buku One Team di Tengah Kekalahan Timnas Indonesia dari Korea Selatan: Kebetulan atau Sindiran?

Dalam unggahan Instagram tersebut, manajemen turut melampirkan rincian biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon siswa akademi.

Biaya tersebut dibedakan berdasarkan status murid, apakah berasal dari daerah lokal atau non-lokal, serta apakah mereka tinggal di mess atau tidak. Besarannya bervariasi, mulai dari Rp10 juta hingga Rp20 juta.

Untuk murid lokal yang tidak tinggal di mess, biaya yang dikenakan sekitar Rp10 juta. Biaya ini sudah mencakup pendaftaran, program latihan selama lima hingga enam bulan, seragam, peralatan latihan, sparing atau kompetisi, kegiatan akademi, hingga asuransi dasar.

Baca Juga: Timnas Indonesia Gagal ke Piala Asia U-23 2026 Usai Takluk 0-1 dari Korea Selatan, Netizen: Hanya Menang Penguasaan Bola

Sementara itu, bagi murid lokal yang memilih tinggal di mess, jumlah yang harus dibayarkan meningkat menjadi Rp15 juta. Tambahan biaya tersebut dialokasikan untuk akomodasi asrama, konsumsi, serta fasilitas harian yang menunjang kehidupan sehari-hari para pemain muda.

Sedangkan bagi murid non-lokal, biaya yang dikenakan lebih tinggi. Untuk kategori non-lokal yang tidak tinggal di mess, total biayanya sekitar Rp15 juta.

Perbedaan utama terletak pada adanya tambahan biaya pendampingan dan logistik yang dibutuhkan karena jarak asal mereka.

Baca Juga: Garuda Muda Tertinggal 0-1 dari Korea Selatan di Babak Pertama AFC U-23 Asian Cup Qualifiers 2026

Adapun bagi murid non-lokal yang tinggal di mess, biaya mencapai Rp20 juta. Paket ini dianggap paling lengkap karena mencakup seluruh fasilitas, mulai dari akomodasi asrama, konsumsi, fasilitas harian, hingga tambahan logistik non-lokal.

Komisaris PT PBMB, Zia Ul Haq, menegaskan bahwa seluruh biaya tersebut tidak dipungut sembarangan. Menurutnya, dana yang dibayarkan akan kembali sepenuhnya untuk kebutuhan siswa, mulai dari perlindungan asuransi, penyediaan peralatan, hingga mendukung program pelatihan dan kenyamanan selama tinggal di akademi.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Diid. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini