Ikatan emosional dengan Indonesia juga membuatnya semakin mantap, karena istrinya memiliki hubungan erat dengan Tanah Air sehingga misinya terasa lebih personal.
Respon publik terhadap pengumuman ini beragam dari netizen Facebook. Tidak sedikit yang optimis, namun keraguan pun masih ada.
“Lah gede gembar gembor permainan turun drastis," tlis akun facebook Abdul. Komentar itu disertai tawa seakan menyinggung besar harapan yang kerap berakhir antiklimaks.
Sementara itu, Muhammad Alwi Al Rasyid memberi harapan positif dengan tulisannya, “Semoga membawa Indonesia ke jalur sepak bola yg lebih baik.”
“Mas...kalo kumpulmu sama ketum dan semua anggota PSSI....yakin gak bakal bisa berubah...malah bakal zonk,” kata Prasetyo Tyo. Komentar ini menggambarkan keraguan terhadap sistem internal PSSI yang kerap dianggap sebagai akar masalah.
Namun ada pula yang mencoba menyeimbangkan suasana.
“Mantap. Bagi yg selalu pesimis, nyinyir dan ingin hasil instan minggir,” ujar Wayan WidiArta.
Ada juga komentar dari Dom Torreto yang menyoroti struktur tim, “Staff kepelatihan terlalu banyak.”
Komentar-komentar ini menjadi cerminan betapa besar ekspektasi publik sekaligus betapa dalam pula luka lama yang ditinggalkan sepak bola Indonesia. Optimisme bercampur dengan rasa skeptis, sebuah dinamika yang terus menyertai setiap langkah baru yang dilakukan federasi.
Tugas yang menanti Zwiers tentu tidaklah ringan. Ia harus membenahi sistem pembinaan usia muda, memperjelas filosofi bermain, hingga membangun program jangka panjang yang konsisten.
Tantangan terbesar bukan hanya di lapangan, melainkan juga dalam membangun kepercayaan publik yang sudah terlalu sering dibuat kecewa.
Meski begitu, modal yang ia miliki sangat kuat. Pengalaman bekerja di berbagai negara dengan kultur sepak bola berbeda memberi Zwiers sudut pandang luas tentang bagaimana membangun pondasi yang sehat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!