SketsaNusantara.id - Krisis finansial yang menimpa Sriwijaya FC terus menunjukkan tanda-tanda memburuk.
Klub asal Sumatera Selatan yang pernah menjadi salah satu kekuatan besar sepak bola nasional kini berada dalam situasi genting akibat tunggakan pembayaran gaji pemain dan staf pelatih yang disebut-sebut berlangsung hingga hampir empat bulan.
Kondisi tersebut bukan hanya memicu gejolak internal, tetapi juga memancing keprihatinan dari kalangan suporter yang semakin khawatir terhadap kelangsungan klub kebanggaan mereka.
Baca Juga: Rizky Ridho Optimistis Timnas Indonesia Hadapi Grup Neraka Piala AFF 2026, Targetkan Juara
Menurut laporan yang beredar, krisis finansial ini telah memicu eksodus pemain dalam jumlah besar. Sejumlah nama memilih hengkang demi keberlangsungan karier profesional mereka.
Hanya sekitar 15 pemain aktif yang dilaporkan masih bertahan menjelang pekan ke-16 Pegadaian Championship 2025/2026, jumlah yang dinilai sangat minim untuk menjaga daya saing klub di level kompetitif.
Situasi semakin tegang ketika pelatih kepala Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, ikut angkat bicara terkait ketidakjelasan pembayaran.
Menurut laporan yang beredar, krisis finansial ini telah memicu eksodus pemain dalam jumlah besar. Sejumlah nama memilih hengkang demi keberlangsungan karier profesional mereka.
Hanya sekitar 15 pemain aktif yang dilaporkan masih bertahan menjelang pekan ke-16 Pegadaian Championship 2025/2026, jumlah yang dinilai sangat minim untuk menjaga daya saing klub di level kompetitif.
Situasi semakin tegang ketika pelatih kepala Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, ikut angkat bicara terkait ketidakjelasan pembayaran.
Baca Juga: Hasil Drawing Piala AFF 2026: Timnas Indonesia Satu Grup Vietnam, Peluang Juara Disebut Terbuka di Era John Herdman
Dalam sebuah pernyataan tegas, ia menyampaikan bahwa dirinya siap mengambil langkah mundur apabila tidak ada perubahan signifikan dari pihak manajemen.
“Kalau memang tidak ada kejelasan pembayaran, rencananya saya juga akan mundur,” ujarnya sebagaimana tertulis dalam unggahan terkait kondisi klub tersebut.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa problem finansial tidak hanya berdampak pada pemain, tetapi juga menggerus moral staf pelatih yang bertanggung jawab mempersiapkan tim dalam persaingan liga.
Dalam sebuah pernyataan tegas, ia menyampaikan bahwa dirinya siap mengambil langkah mundur apabila tidak ada perubahan signifikan dari pihak manajemen.
“Kalau memang tidak ada kejelasan pembayaran, rencananya saya juga akan mundur,” ujarnya sebagaimana tertulis dalam unggahan terkait kondisi klub tersebut.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa problem finansial tidak hanya berdampak pada pemain, tetapi juga menggerus moral staf pelatih yang bertanggung jawab mempersiapkan tim dalam persaingan liga.
Baca Juga: Meski Tanpa Agenda FIFA, Piala AFF 2026 Jadi Target Timnas Indonesia, Rizky Ridho Percaya Hal ini
Sementara itu, pihak manajemen klub masih bungkam dan belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab krisis maupun langkah penyelesaiannya. Ketertutupan informasi ini semakin memperbesar ketidakpastian di lingkungan internal klub.
Dari sisi suporter, gelombang kekecewaan dan kecemasan mulai terlihat secara terbuka. Sriwijaya FC selama ini dikenal memiliki pendukung yang loyal dan fanatik, termasuk para Ultras Palembang yang kerap mengisi stadion pada masa kejayaannya.
Kini, mereka justru terpaksa menunggu kabar baik sambil melihat klub kesayangan berjuang untuk tetap bertahan. Sebagian warganet bahkan menyuarakan kekhawatiran bahwa Sriwijaya FC berpotensi kolaps jika keadaan tidak segera diselesaikan.
Tak dapat dimungkiri, kondisi finansial klub sepak bola di Indonesia memang kerap menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir.
Ketergantungan pada sponsor, penjualan tiket, dan pendapatan kompetisi masih menjadi tantangan struktural yang belum terselesaikan secara menyeluruh.
Sriwijaya FC, yang dulu sempat memborong gelar dan membentuk tim bertabur bintang, kini berada pada situasi yang berbanding terbalik dengan masa kejayaannya.
Krisis ini juga memunculkan pertanyaan besar terkait bagaimana regulasi liga dan federasi dapat memberikan proteksi terhadap pemain serta pelatih ketika klub menghadapi kesulitan finansial ekstrem.
Kehadiran figur seperti Budi Sudarsono juga masih dianggap sebagai aset penting dalam menjaga stabilitas teknis tim.
Namun ancaman mundurnya pelatih tentu akan menambah komplikasi yang bisa mempercepat degradasi kondisi internal klub.
Dalam dunia sepak bola profesional, hilangnya pelatih di tengah krisis finansial sering kali menandakan fase krusial menuju pembubaran atau degradasi administratif.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari manajemen Sriwijaya FC mengenai penjelasan teknis penyebab krisis, detail tunggakan gaji, maupun skema penyelesaiannya.
Sebagaimana diberitakan, dilansir SketsaNusantara.id dari @transferliga2 yang bersumber dari @viral_sumsel, krisis ini menjadi salah satu isu sepak bola nasional yang menyita perhatian publik dan memperlihatkan pentingnya tata kelola klub yang lebih sehat ke depan.***
Sementara itu, pihak manajemen klub masih bungkam dan belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab krisis maupun langkah penyelesaiannya. Ketertutupan informasi ini semakin memperbesar ketidakpastian di lingkungan internal klub.
Dari sisi suporter, gelombang kekecewaan dan kecemasan mulai terlihat secara terbuka. Sriwijaya FC selama ini dikenal memiliki pendukung yang loyal dan fanatik, termasuk para Ultras Palembang yang kerap mengisi stadion pada masa kejayaannya.
Kini, mereka justru terpaksa menunggu kabar baik sambil melihat klub kesayangan berjuang untuk tetap bertahan. Sebagian warganet bahkan menyuarakan kekhawatiran bahwa Sriwijaya FC berpotensi kolaps jika keadaan tidak segera diselesaikan.
Tak dapat dimungkiri, kondisi finansial klub sepak bola di Indonesia memang kerap menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir.
Ketergantungan pada sponsor, penjualan tiket, dan pendapatan kompetisi masih menjadi tantangan struktural yang belum terselesaikan secara menyeluruh.
Sriwijaya FC, yang dulu sempat memborong gelar dan membentuk tim bertabur bintang, kini berada pada situasi yang berbanding terbalik dengan masa kejayaannya.
Krisis ini juga memunculkan pertanyaan besar terkait bagaimana regulasi liga dan federasi dapat memberikan proteksi terhadap pemain serta pelatih ketika klub menghadapi kesulitan finansial ekstrem.
Kehadiran figur seperti Budi Sudarsono juga masih dianggap sebagai aset penting dalam menjaga stabilitas teknis tim.
Namun ancaman mundurnya pelatih tentu akan menambah komplikasi yang bisa mempercepat degradasi kondisi internal klub.
Dalam dunia sepak bola profesional, hilangnya pelatih di tengah krisis finansial sering kali menandakan fase krusial menuju pembubaran atau degradasi administratif.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari manajemen Sriwijaya FC mengenai penjelasan teknis penyebab krisis, detail tunggakan gaji, maupun skema penyelesaiannya.
Sebagaimana diberitakan, dilansir SketsaNusantara.id dari @transferliga2 yang bersumber dari @viral_sumsel, krisis ini menjadi salah satu isu sepak bola nasional yang menyita perhatian publik dan memperlihatkan pentingnya tata kelola klub yang lebih sehat ke depan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Pelatih Baru Timnas Indonesia John Herdman Dijadwalkan Datang 12 Januari, PSSI Ungkap Syarat Tinggal Tetap
Mengejutkan! Thom Haye Akui Keluarganya Dapat Ancaman Pembunuhan, Curhatan Soal Sepak Bola Indonesia Usai Laga Persib vs Persija Ramai Jadi Sorotan
Resmi Diperkenalkan, John Herdman Siap Tangani Timnas Indonesia dan Mulai Petualangan Baru di Asia
Bersedia Dikontrak dengan Skema 2 plus 2, John Herdman Ungkap Alasan Bersedia Jadi Pelatih Timnas Indonesia
Mengenal Cesar Meylan, Ilmuwan Sport Science Tangan Kanan Pelatih Timnas John Herdman yang akan Menjadi Otak Performa Skuad Garuda
Kevin Diks Menyita Perhatian Usai Moncer di Bundesliga Meski Berposisi Bek Timnas
Piala AFF 2026 Jadi Panggung Awal John Herdman, Timnas Indonesia Masuk Pot 3 dan Terancam Satu Grup Bersama Raksasa ASEAN